VO BACELL MUSLIM

Beranda » Keluarga Muslimah » Ucapkanlah Salam, dan Istri mu Akan Semakin Cinta!

Ucapkanlah Salam, dan Istri mu Akan Semakin Cinta!

RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi Wassalam melarang para suami
membuat kaget dengan
kedatangannya secara
mendadak, tanpa memberitahu
lebih dahulu. Dan, bila seorang
suami dating dari bepergian jauh, hendaknya memberitahu lebih
dahulu kapan ia akan pulang.
Jangan sampai, niat kita ingin
member kejutan, malah
menimbulkan kesalahpahaman,
seperti yang terjadi pada sahabat Abdullah bin Rawahah
berikut ini : Dari Abu Salamah bahwasanya
Abdullah bin Rawahah datang
dari bepergian jauh di malam
hari. Ia pun bergegas menemui
istrinya. Ternyata di dalam
rumah lampu masih menyala, dan ia melihat bersama istrinya ada
sosok yang tengah tertidur. Ia
pun segera menghunus
pedangnya, namun tiba-tiba
istrinya berkata, “Menjauhlah
dariku. Ini adalah wanita yang biasa menyisir rambutku.”
Abdullah bin Rawahah pun
mendatangi Nabi dan
menceritakan kejadian tersebut.
Maka, Nabi melarang seorang
suami mendatangi istrinya dari bepergian jauh di waktu malam.”
(HR. Ahmad). Kalau pun ia datang di malam
hari, hendaklah seorang suami
memberitahu terlebih dahulu
kepada istrinya perihal waktu
kedatangannya. Dan, setelah
sampai di rumah, hendaklah ia mengucapkan sal;am kepadanya,
sebagai bentuk berita bahwa ia
telah datang. Insya Allah, resep
ini akan membuahkan
keharmonisan rumah tangga.
Sejenak, mari kita simak kisah kehidupan keluarga Abu Muslim
berikut, yang mengambarkan
betapa nuasa relegi di tengah-
tengah keluarga sangat
membantu dalam mewujudkan
kebahagiaan rumah tangga. Dari Utsman bin Atha’, dari
ayahnya, ia berkata, “Abu
Muslim mempunyai sebuah
kebiasaan, apabila pulan dari
masjid ke rumah, setiba di depan
pintu gerbangnya, ia bertakbir, lantas istrinya pun bertakbir. Bila
ia berada di halaman rumahnya,
ia bertakbir, Maka istrinya pun
menyahut takbirnya dengan
takbir pula. Dan, bila telah sampai
didepan pintu rumah, ia pun bertakbir dan dIjawab dengan
takbir pula oleh istrinya. Pada suatu malam, ia pulang dari
masjid dan bertakbir di depan
pintu gerbangnya, akan tetapi
tidak ada seorang pun yang
menyahut takbirnya. Ketika
berada di halaman rumah, ia kembali bertakbir, tapi juga tidak
ada yang menyahut takbirnya.
Setiba di pintu rumahnya, ia
kembali bertakbir, akan tetapi
tidak ada seorang pun yang
menyahut takbirnya. Biasanya, ketika memasuk rumah, istrinya
segera mengambil selendang dan
alas kakinya, kemudian
menghidangkan makanan
kepadanya. Saat itu, ia memasuki
rumahnya, ternyata di rumah tidak ada lampu yang menyala,
sedangkan istrinya duduk
teertunduk sambil menyandarkan
dirinya pada sebatang tongkat
yang dibawanya. Abu Muslim pun bertanya
kepadanya, “Apa yang terjadi
padamu?” Istrinya menjawab, “Engkau
seorang yang mempunyai
kedudukan di mata Mu’awiyah,
sedangkan kita tidak mempunyai
pembantu. Alangkah baiknya bila
engkau meminta Mu’awiyah memberi kita seorang pembantu,
pasti ia mau memberikan.” Abu Muslim pun berucap, “Ya
Allah, siapa saja yang telah
merusak istriku, maka
butakanlah matanya.” Sebelum itu, istri Abu Muslim
memang didatangi oleh seorang
wanita yang berkata kepadanya,
“Suamimu adalah orang yang
memiliki kedudukan di mata
Mu’awiyah, maka sebaiknya engkau memintanya agar ia
meminta Mu’awiyah memberinya
seorang pembantu, pasti
Mu’awiyah mau memberinya dan
kalian pun bisa hidup dengan
senang.” Ketika wanita itu sedang duduk
di rumahnya, tiba-tiba matanya
gelap. Wanita itu berkata,
“Mengapa lampu kalian padam?”
Keluarganya menjawab, “Tidak,
lampu kita tidak ada yang padam.” Wanita itu segera datang kepada
Abu Muslim, menangis sambil
memintanya mendoakannya
kepada Allah supaya
mengembalikan penglihatannya.
Abu Muslim pun iba kepadanya, lalu berdoa kepada Allah, maka
Allah pun memulihkan
penglihatannya. (Al-Atqiya’ Al-
Akhiffa’). Perlu disadari bersama, bahwa
untuk menghadirkan
keharmonisan rumah tangga
dapat diwujudkan menghadirkan
nuasa ibadah di dalamnya. Sisi
inilah yang jarang disadari oleh kalangan pasangan suami istri.
Bahkan, kadang kita dapati
rumah tangga yang kering dari
nuasa relegi. Sehingga, jangan
heran bila ada potret rumah
tangga yang tak ubahnya seperti kuburan, saking
keringnya dari nuansa religi. Cabalah untuk mencoba untuk
menghidupkan kembali semangat
keagamaan yang dulu pernah
berkobar-kobar, saat sebelum
membangun rumah tangga. Dulu,
ucapan salam saat bertemu merupakan kebiasaan yang tak
lepas dari diri kita. Jabat
tanggan saat bertemu dengan
saudara, teman, dan kerabat
merupakan perkara yang selalu
menghiasi akhlak kita. Namun, setelah berumah tangga,
kebiasaan-kebiasaan positif
seperti itu seolah lenyap dan
sirna dari pribadi kita. Keluar
masuk rumah tanpa mengucap
salam. Saat hendak pergi kerja, tak ada tutur sapa dan jabat
tangan dengan istri dan anak-
anak. Kering, dan terlihat muram. Kisah Abu Muslim di atas sangat
cocok dijadikan potret dan
cermin untuk keluarga kita. Tidak
hanya salam, saling menyahut
takbir serasa memberikan
kehangatan dan keharmonisan antar suami istri. Menakjubkan
sekaligus patut dicontoh. Semoga
kehermonisan senantiasa
menyapa keluarga kita. Wallahul
musta’an.* Penulis buku, tinggal di Solo,
Jawa Tengah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: