VO BACELL MUSLIM

Beranda » Knowlegde » Ngemil Kerikil Neraka

Ngemil Kerikil Neraka

Kehidupan dunia menawarkan kesenangan semu yang tiada batas. Dan manusia di
`anugrahi` cobaan berupa nafsu sebagai pengikut setia atas semua itu. Berbagai
tawaran menggiurkanpun tak luput menyemarakkan kelezatan dosa. Namun sangat disayangkan bahwa Kesemua itu berujung pada neraka yang mengerikan. Betapa batin manusia sering kali terlupa atas dosa yang nyata apalagi yang tersamar.

Saat kelalaian malah dianggap
atraksi hiburan yang menyenangkan, dan atau dosa dinilai sebagai improfisasi
brilian, maka kabut hitam penutup pintu hidayah manusia pun menjadi terasa
sesak untuk dilewati.

Bisakah kita mengkaji ulang sebentar dan melihat kembali kebelakang jalan hidup yang selama ini telah kita tempuh.

Adakah barang haram yang telah kita relakan menjadi bagian dari darah kita saat ini?

Dan atau mungkin bukan hanya kita, jangan- jangan suapan dosa itu telah kita
suguhkan kepada anak- anak kita?

Menghadirkan neraka sebagai bagian dari sarapan pagi anda dan keluarga, tentu
saja bukan mencerminkan cita rasa yang baik dari orang tua yang pantas
diteladani.

Bagaimana mungkin orangtua
yang baik bisa begitu egois.

Egois? ya, keegoisan orang tua yang dengan kesenangan dan kepuasan pribadinya
telah mengumpulkan harta haram, yang kemudian memenuhi perut anak- anak
terkasih yang jelas- jelas tidak tahu menahu tentang tingkah polah ayah ibunya.Parahnya lagi, jika hal itu
disampaikan orang lain sebagai nasehat bagi mereka, sejuta dalih atas dasar
tanggung jawabpun mengalir dari mulut agar terbuka jalan pemakluman orang lain atas dirinya.

Bagaimana mungkin orang tua teladan akan bangga mengajak anak-anak untuk secara berjamaah ngemil
kerikil neraka sebagai rutinitas harian dan kudapan favorit mereka?

Tentu saja kita berharap kepada Allah agar melindungi kita dari menjadi hambanya yang tergambarkan seperti hal tersebut diatas. untuk mendapat rizki halal atau haram bukanlah tentang idealisme dan atau sekedar jargon- jargon tak berguna.
Kesemua itu adalah pencerminan kualitas orang tua sebagai seorang hamba.
Jangan anggap remeh sebuah pilihan, karena hitungan Allah yang sangat maha akurat dalam segala hal, akan
memberikan balasan atas apa yang kita pilih dengan sangat tepat pula.

Saat ini, besok, didunia, ataupun diakherat, cepat
atau lambat, layaknya bumerang balasan itu akan kembali menimpa kita. Benar-
benar tidak ada yang gratis apalagi tertebus dengan cuma- cuma untuk sebuah kejahatan ataupun kebaikan.

Semua akan menuai balasannya sendiri-sendiri sesuai dengan kadarnya.

Usia kita akan menua, dan kita tidak akan tahu apa yang akan Allah rencanakan
dalam episode penempuhan jalan itu.

Beberapa orang sengaja menunggu umur senja mereka untuk memanen tangis penyesalan. Sebagian dari mereka mungkin tak sadar atas proses menunggu
itu, dengan membiarkan diri lalai terus menerus dalam dosa.

Hal itu sama saja mereka membangun jalan takdir mereka selanjutnya. Dan kapan tepatnya episode
kesedihan itu akan terjadi, tentunya itu hanya masalah waktu saja.

Saat mata sudah buram untuk melihat, saat lutut tak mampu menopang penuh
badan untuk melangkah, dan atau malah justru saat harta yang seumur hidup dikumpulkannya tenyata tak lagi mengakrabinya. Apalagi yang mampu dicapai saat itu, kecuali dengan rahmat Allah subhanahu Wata`ala yang kembali merengkuh kita dalam sebuah kebahagiaan. Hanya hati yang penuh kesyukuran yang akan dengan gagah berani menatap kenyataan dan memandang langkah takdir berikutnya sebagai perjuangan.

Bagi pribadi seperti ini,kekurangan dipandang sebagai tantangan yang dengan ijin Allah akan selalu bisa ditaklukkan. Perjuangan menghadiahi keluarga dengan
hidangan kesenangan dalam rizki yang halal, walaupun dalam keterbatasan, akan
menjadikan anda kebanggaan keluarga.

Keselamatan dunia akherat yang anda bangun atas keluarga, menjadikan anda sebagai harta yang tak ternilai bagi keluarga, sangat lebih bernilai, bahkan lebih dari nilai harta yang telah anda berikan untuk mereka.

/(Syahidah)\


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: