VO BACELL MUSLIM

Beranda » Keluarga Muslimah » Drama Sang Drama Queen

Drama Sang Drama Queen

Allah selalu punya skenario yang Maha hebat untuk menguji hamba-hambanya.
Namun dibalik semua cobaan itu, Allah memberikan cobaaan justru untuk
perbaikan hambanya yang mau belajar dan atau mengambil pelajaran darinya. Tapi sayang, banyak dari kita yang tiada menyadari untuk memberikan sikap terbaik saat cobaan itu datang. Seringkali apabila kita terpojok pada suatu
keadaan, maka muncullah kita sebagai
drama queen. Kita jadi terlalu mendramatisir keadaan dengan
menunjukkan reaksi emosi yang
berlebihan entah dengan tujuan untuk
mengambil perhatian, simpati dan empati
orang lain sehingga pendapat mereka
berbelok membela dan mengasihani kita. Memang itulah manusia, tempatnya salah
dan lupa. Sang drama queen tidak akan ada
habisnya mengolah sikap, kata dan
perbuatan yang hiperbola atas sebuah
kejadian. Hatinya terkadang terlalu
sensitif dengan ketidaksetujuan
lingkungan sekitar atas apapun pendapatnya.Seringkali juga ketika dia
terlibat dalam suatu masalah, dia tak
segan- segan menunjukkan perubahan
emosi secara cepat didepan orang lain.
Selain itu, secara konstan dia mencari
pembenaran dan pernyataan setuju dari orang lain. Kesemuanya dia lakukan
karena besarnya kebutuhan atas
pengakuan keberadaan dirinya dihadapan
orang lain. Entah dalam posisi benar atau
salah, dia tidak terlalu perduli, malah
kalau bisa dia akan terlihat selalu benar dan terlalu sempurna untuk disalahkan. Tapi selanjutnya timbul pertanyaan,
sebegitu pentingkah Ridho dan
penghormatan manusia atas diri kita?
Padahal penghormatan atas diri yang
diberikan manusia memanglah baik, tapi
tak selalunya mendatangkan kebaikan. Seribu manusia, pastilah memiliki seribu
pendapat dan sudut pandang yang
berbeda dalam melihat sebuah masalah.
Namun yang pasti Allah Azza wa Jalla yang
memiliki hak mutlak atas nilai penilaian dan
atau salah dan benarnya kita. Pengakuan dan ridho dari Allah adalah yang paling
mutlak untuk kita. Walaupun biasanya
penghormatan dari manusia atas kita
biasanya menjadi simbol terhadap atas
baik buruknya kita, tapi mereka
notabene sama dengan kita yang masih juga memiliki kekurangan. Dan tidak
mungkin pula bahwa penilaian mereka bisa
saja salah. Rasa puas yang kita miliki
setelah terlihat wah dan atau benar
dihadapan makhluk, sayang sekali, hal ini
biasanya menghentikan proses untuk perbaikan diri. Betapa ruginya,
Meletakkan ridho dan harapan kita
sepenuhnya untuk sebuah pengakuan
kepada para makhluk sama saja
memasang bom waktu kekecewaan yang
setiap saat bisa meledak dan berbalik melukai kita. Kebaikan manusia tidak selalunya tampak
dari penampilan, walaupun kebaikan
memunculkan kesopanan. Kebaikan
manusia tak selalunya tampak dari
perkataan walau kebaikan memunculkan
kedamaian dalam nasehat yang diberikan. Kebaikan tak selalunya tampak dari amal
kecuali yang dilakukan ikhlas hanya
karena Allah. Saja. Maka dari itu, Maha suci Allah yang
menciptakan rasa hati bernama
kesabaran. Kesabaran untuk kita tidak
buru- buru menghakimi orang lain atas
apapun yang mereka lakukan, dan atau
menghakimi diri sendiri atas apa yang telah kita lakukan. Maha suci Allah yang
mengajarkan berprasangka baik atas
apapun yang saudara kita lakukan dan
atau berikan. Hati manusia siapa yang
dapat meraba, kebaikan atas niat dan
perbuatan manusia hanyalah mutlak Allah yang mengetahuinya. Tak perlu risau
ataupun panik apalagi sampai
mendramatisir keadaan jika kebaikan kita
tidak dilihat atau kita tidak dikukuhkan
sebagai pemilik kebenaran atas sebuah
keadaan walaupun sebenarnya kita benar. Cukup katakan pada hati bahwa
kebaikan itu hanya ikhlas kita lakukan
demi mencari keridhoan Allah. Dan
keikhlasan selanjutnya memunculkan
kebaikan yang lebih banyak lagi.
InsyaAllah. Begitu pula, jangan mudah menghakimi
orang lain atas apapun yang mereka
lakukan atau menimpa mereka. Jangan
sampai penghakiman kita tersebut
memancingnya untuk menjadi sang drama
queen atas keadaan yang sedang dialaminya. Hati yang baik akan selalu
akan dipenuhi dengan doa yang baik.
Cukuplah doakan yang baik- baik dan
yang terbaik untuknya dan kekuatan
bagi diri kita, jika mungkin giliran kita
mengalami musibah yang sama. Damailah Hanya bersama Allah yang maha
mendamaikan. Cukuplah Allah menjadi
tolak ukur atas apapun yang kita
lakukan. Sama sekali tidak ada alasan
yang logis untuk mengudang hadirnya
pendramatisiran sikap dan atau kepanikan serta hiperbola dalam
menyikapi sebuah keadaan demi meraih
ridho manusia. Jangan risau bila tidak
dipandang baik oleh manusia, kecuali
memang kita jelas-jelas melakukan
kejahatan. Namun jangan pula selalu memandang baik diri sendiri, karena
manusia adalah makhluk yang penuh
dengan kekhilafan. Penuhilah hati hanya dengan Allah. Karena
hati yang selalu mengakrapi tuhannya,
akan selalu tenang. Ibarat Lautan yang
dalam dan luas, dia akan menampung
segala permasalan dari berbagai penjuru
dengan tenang. Hati yang jauh dari Allah akan selalu beriak. Dia akan sibuk mencari
pembenaran dengan menyikapi keadaan
dengan cara apapun agar seolah
pengakuan orang lain akan
menguntungkannya. Padahal kesemua itu
adalah semu, walaupun kita dalam keadaan benar. Dan jika kita dalam posisi
bersalah, tidak lain dia sedang
membohongi diri sediri, karena hatinya
jelas- jelas mengetahui bagaimana
keadaan yang sesungguhnya.
kehausannya atas perhatian dan pengakuan manusia justru
menjauhkannya semakin jauh dengan
Allah. Dan hal itu tidak akan selesai,
sampai akhirnya hatinya menyadari
bahwa apapun yang datang kepadanya
adalah bentuk ujian dari Allah, yang seharusnya disusul dengan penyikapan
terbaik dengan yang diridhoi Allah. Saja.
Insyaallah kesadaran seperti itu akan
membawa lebih banyak kebaikan. Bukan
hanya untuk diri sendiri, namun juga
untuk makhluk Allah yang lain disekitarnya. Kebaikan memang tak selalunya tampak
baik dan disikapi dengan baik dihadapan
manusia lain. Namun jangan sampai hal itu
menghadirkan nafsu kita untuk berbicara
lewat pendramatisiran keadaan dari diri
kita dengan menghalalkan segala cara. Memaafkan dan belajar jujur kepada diri
sendiri atas apapun yang telah kita
lakukan dan menyadari bahwa manusia
yang lainpun juga melakukan kekhilafan
insyaAllah akan selalu memunculkan sikap
yang baik. Hal ini juga menghindarkan saudara kita untuk menjadi sang drama
queen agar terlihat lebih elegan
dihadapan kita, sehingga menghilangkan
kebaikan dari kesadarannya bahwa Ridho
Allah adalah diatas segala- galanya. Bersalah itu manusia dan manusiawi.
Hanya Allah yang selalunya akan benar.
Lari dari masalah dan atau
mendramatisirnya justru memperlihatkan
kedangkalan kita. Menyesal, Meminta
maaf, bukanlah hal yang memalukan, hal itu sangat manusia sekali. Dan kedua hal
itupula justru yang memuliakan diri kita
sendiri. (Syahidah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: