VO BACELL MUSLIM

Beranda » Keluarga Muslimah » Sampaikan Kabar Duka dengan Bahasa Cinta

Sampaikan Kabar Duka dengan Bahasa Cinta

Suatu hari, anak Abu Thalhah meninggal
dunia. Ummu Sulaim, istri Abu
Thalhah, berkata kepada orang-
orang yang menjenguk anaknya,
“Janganlah ada yang memberi
kabar kepada Abu Thalhah hingga akulah sendiri yang
memberi kabar duka ini.”
Berkata begitu, Ummu Sulaim
segera merapikan jenazah
putranya.
Malam harinya, Abu Thalhah pulang. Ia segera menanyakan
keadaan anaknya.
“Ia tenang seperti sedia kala,”
jawab Ummu Sulaim.
Istri taat ini bergegas
menyuguhkan makan malam bagi suaminya. Tak lupa mematut diri
di depan cermin agar tampak
lebih indah dari biasanya.
Melihat istrinya yang berhias
cantik, Abu Thalhah pun
bergairah. Malam itu pun Ummu Sulaim melayani suaminya di atas
tempat tidur.
Setelah Ummu Sulaim melihat
suaminya tampak puas dan
tenang jiwanya, ia pun berkata
lembut, “Wahai Abu Thalhah, bila ada keluarga yang meminjam
sesuatu kepada keluarga yang
lain, lalu mereka meminta kembali
barang pinjaman itu, tetapi
keluarga itu menolak
mengembalikan pinjaman itu, bagaimana menurut
pendapatmu?”
“Sungguh, sekali-kali mereka
tidak berhak untuk menolaknya
karena barang pinjaman harus
dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah dengan
segera.
Mendengar jawaban itu, Ummu
Sulaim tersenyum, kemudian
berkata lagi, “Sesungguhnya
anakmu adalah barang pinjaman dari Allah, dan Allah telah
mengambilnya.”
Seketika Abu Thalhah
mengucapkan kalimat istirja’,
Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Esok harinya, Abu Thalhah menceritakan kejadian itu
kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Rasulullah
membenarkan sikap Ummu Sulaim
dan bersabda, “Semoga Allah
memberkahi malam kamu berdua.” Buah Surga Anak adalah permata jiwa yang
senantiasa dinanti dan dirindui
kehadirannya. Ketiadaan anak
menjadikan hidup terasa sepi,
sedang kehadirannya menjadikan
hidup terasa menjadi ramai dan ceria. Karena itulah, ketika anak-
anak telah hadir, mereka selalu
berusaha dirawat dengan
sebaik-baik perawatan, diasuh
dengan sebaik-baik asuhan, dan
dijaga dengan sebaik-baik penjagaan.
Harapannya, agar mereka dapat
tumbuh dan berkembang dengan
baik, sehingga senantiasa sehat
jiwa dan raganya. Anak-anak
yang sehat, anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan
baik, akan selalu tampil lincah
dan ceria. Hari-harinya selalu
dihiasi dengan gerak-gerik lincah,
canda tawa, dan senyum nan
menggelitik yang membuat kedua orangtuanya selalu diliputi
perasaan suka dan bahagia. Inilah
anugerah terindah dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang
senantiasa diidam-idamkan oleh
setiap orangtua. Akan tetapi, harapan seringkali
tak sesuai dengan kenyataan.
Tak sedikit para orangtua yang
harus menghadapi ujian berupa
kematian anaknya, di saat usia
sang anak masih amat belia. Kesedihan pun menyelimuti hati.
Tak jarang begitu dalam. Bahkan,
tak sedikit orangtua yang stres
dan frustrasi, dan pada
gilirannya mengumpat-umpat
Allah ketika menghadapi ujian berupa kematian sang buah hati.
Seorang Muslim yang memiliki
keimanan mantap tidak akan
bertindak seperti itu. Sebab, ia
mempercayai dengan sepenuh
keyakinan bahwa hakikat kepastian, baik dan buruknya,
itu dari Allah. Oleh karena itu,
sungguh akan tampak kecil
segala peristiwa dan musibah
yang menimpa dirinya. Ia akan
berserah diri kepada Allah, sehingga jiwanya akan merasa
tenang, hatinya akan tabah
menghadapi cobaan, ridha akan
kepastian, dan tunduk kepada
suratan takdir Allah.
Seorang ulama berkata, “Hendaknya kedua orangtua
bersabar dan menerima
ketentuan takdir Allah, karena
putusan Allah pada seorang
mukmin dalam hal yang tidak
menyenangkan mungkin lebih baik daripada dalam hal yang
menyenangkan hati.”
Apalagi, bagi orang-orang yang
bersabar menghadapi kematian
anak, akan memperoleh “buah
manis” yang akan dipetik di akhirat nanti. Di antara buah
manis itu tak lain adalah surga.
Rasulullah bersabda, “Jika anak
seorang hamba meninggal dunia,
maka Allah berfirman kepada
malaikat, ‘Kalian telah mengambil anak hamba-Ku?” Mereka
(malaikat) berkata, ‘Ya’. Allah
berfirman, ‘Kalian telah
mengambil buah hati hamba-
Ku?’ Mereka berkata, ‘Ya’.
Allah berfirman, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’
Mereka menjawab, ‘Ia memuji-
Mu dan ber-istirja’.’ Maka Allah
berfirman, ‘Bangunkanlah bagi
hamba-Ku rumah di surga dan
berilah nama Baitul-Hamd’.” (Riwayat At-Tirmidzi) Bersedih, Boleh. Apakah dengan demikian,
bersabar menghadapi kematian
anak berarti tidak boleh
bersedih? Tidak boleh menangis?
Tentu saja tidak serta merta
seperti itu. Islam mengajarkan bolehnya bersedih menghadapi
kematian anak karena itu
merupakan hal yang manusiawi.
Bersedih adalah luapan ekspresi
yang lumrah ketika seseorang
berpisah dengan sosok yang disayanginya (anak). Bersedih
seperti ini justru menunjukkan
ekspresi kecintaan dan kasih
sayang. Yang tidak diperbolehkan
adalah ketika kesedihan itu telah
berlebih-lebihan dengan diiringi suara tangis ratapan.
Rasulullah sendiri diriwayatkan
begitu bersedih ketika
menghadapi kematian Ibrahim,
anak kesayangannya. Rasulullah
bahkan menangis sehingga matanya basah.
Dalam sebuah riwayat
disebutkan, kesedihan dan tangis
Rasulullah itu terlihat jelas oleh
sebagian kaum Muslimin yang
bertakziyah di rumah beliau. Berkatalah salah satu hadirin,
“Mengapa Tuan menangis?
Bukankah Tuan pernah melarang
kami menangisi orang mati?”
Mendengar perkataan itu, Nabi
bersabda, “Aku tidak pernah melarang berdukacita (bersedih),
tetapi yang pernah kularang itu
hanya mengangkat suara dengan
menangis. Apa-apa yang kamu
lihat kepadaku adalah bekas apa
yang terkandung di dalam hati dari rasa cinta dan sayang.
Barangsiapa yang tidak
menyatakan kasih sayang, orang
lain tidak akan menyatakan kasih
sayang terhadapnya.”
Jadi, sedih menghadapi kematian anak dalam batas-batas yang
wajar diperbolehkan syariat.
Yang dilarang adalah jika
tangisan itu dilakukan dengan
meratap. Apalagi bila disertai
dengan menampar pipi dan merobek-robek pakaian, maka
hal ini jelas-jelas dilarang syariat
Islam sebagaimana sabda
Rasulullah, “Bukan dari
golonganku orang yang (ditinggal
mati keluarganya) memukul- mukul pipi dan merobek-robek
(kain) saku dan menjerit-jerit
dengan suara jeritan kaum
jahiliyah.” (Riwayat Bukhari dan
Muslim)
Karenanya, ketika harus menghadapi takdir kematian
anak, bersedihlah dalam batas-
batas yang wajar. Terimalah
takdir kematian itu dengan
sabar dan ikhlas. Mudah-
mudahan dengan begitu, kematian anak akan menjadi
“buah manis” yang akan dipetik
di akhirat nanti. Ya, anak
tersebut akan menjadi jalan
menuju surga bagi orangtuanya.
Di sinilah kisah Ummu Sulaim di atas menemukan konteksnya
sebagai pelajaran berharga
tentang ketabahan yang luar
biasa seorang ibu menghadapi
kematian anaknya. Itu semua
tentu sebagai akibat dari spirit keimanan yang benar-benar
merasuk ke dalam kalbunya. Wallahu a’lam bishshowaab.
(Hunaifa/hidayatullah)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: