VO BACELL MUSLIM

Beranda » Keluarga Muslimah » Jilbabku Bukan Nilaiku ?

Jilbabku Bukan Nilaiku ?

Berjilbab sesuai syari’at dan
berakhlaq baik adalah suatu
kesempurnaan bagi seorang
muslimah. Dengan jilbab akan
membedakan wanita muslim
dengan wanita kafir. Jilbab yang menjadi nilai bagi seorang
muslimah sebagai lambang
penghormatan kepada dirinya
sendiri. Ia memilih berjilbab,
berarti ia menginginkan
keridhoan Allah dan sangat mengetahui betapa berharga
tubuhnya jika hanya untuk di
pamerkan kepada yang bukan
muhrimnya, betapa tubuhnya
yang terbuka dapat menjadi
penyebab timbulnya fitnah. Karena kecantikan bukan di lihat
dari keindahan tubuh yang
terbuka, bukan itu. Itu hanya
sementara. Jika tujuannya ingin
di lihat menarik oleh lawan jenis
dengan pakaian yang terbuka, yakinlah itu hanya sementara.
Saat ini kau berjuang keras
mempercantik diri untuk menarik
hati lawan jenis atau untuk hal-
hal duniawi, maka hatimu akan
kecewa. Kenapa ?? karena ternyata wanita-wanita lain
akan melakukan hal yang sama.
Dan kau pun akan kelelahan
menampilkan kecantikan-
kecantikan semu dalam dirimu.
Okelah jika ada yang bilang, “mau berjilbab atau tidak, itu kan hak
saya”. Tapi tubuh kita bukan hak
kita. Status kita hanya di
pinjamkan. Milik kita hanya roh
yang di tiupkan kedalam jasad
yang Allah pinjamkan. Bahkan roh itu sendiri berada dalam
genggamanNya. Jika barang yang
kita pinjamkan ke orang lain,
kemudian orang tersebut
merusaknya maka kita akan
marah. Sama seperti Allah. Allah bebas melakukan apapun
terhadap ciptaanNya. Jika
amanah yang Dia berikan tidak di
jaga dengan semestinya sesuai
dengan perintahNya.
Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambang kepatuhan kita kepada
perintah Allah. Penilaian hakiki
hanya dari Allah, akan
terpuaskan kita akan
penilaianNya. Allah tidak akan pilih
kasih kepada hambaNya. Bukan Allah tidak sayang karena
memerintahkan kita menutup
aurat, padahal perempuan
adalah makhluk yang indah.
Karena keindahan tak selalu bisa
di lihat secara gratis. Biar saja ada hinaan di sekeliling kita
karena keistiqomahan kita
menutup aurat. Karena kita
adalah berlian mahal yang tidak
mudah terjamah oleh sembarang
orang dan bukan batu kerikil yang banyak bertebaran di
jalan-jalan dan mudah di pegang.
Sebab jilbabku adalah nilaiku,
lambang keshalihan, insyaAllah.
Yang karenanya kita akan
berusaha untuk meluruskan prilaku kita yang sebelumnya
bengok. Yang karenanya, semoga
kita mampu menghilangkan gaya
hidup barat yang kini makin
merajalela. Yang karenanya kita
akan terlindungi dari segala keburukan yang di timbulkan
akibat perbuatan kita sendiri
(membuka aurat). Yang
karenanya kita bisa menampilkan
kenyamanan dalam berbusana
(bukan pengekangan) sebagai contoh kepada mereka yang sinis
terhadap jilbab.
Kita adalah hal terindah dan
hanya untuk yang terindah jika
kita mampu menjaga keindahan
itu hanya untuk yang berhak memilikinya. InsyaAllah.
Kemarin, secara tak sengaja
saya menonton acara “Mamah
Dedeh on the street” dan
dengan tema yang cukup
menarik perhatian saya yaitu Jangan malu hidup sederhana.
Mungkin terdengar tak
bermakna apa-apa atau bahkan
hanya menjadi lalu lalang bagi
yang tak memperhatikannya.
Tapi sesungguhnya makna kalimat tersebut sangatlah
dalam.
Kalimat itu mengingatkan saya
akan kesederhanaan yang
teramat sangat yang di alami
oleh Junjungan kita Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wassalaam.
Dalam suatu kisah Rasulullah :
Suatu hari ‘Umar bin Khaththab
RA menemui Nabi saw. di kamar
beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas
sebuah tikar usang yang
pinggirnya telah digerogoti oleh
kemiskinan (lapuk).
Tikar membekas di belikat beliau,
bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan kulit
samakan membekas di kepala
beliau.
Di salah satu sudut kamar itu
terdapat gandum sekitar satu
gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam
tumbuhan untuk menyamak kulit)
.
Maka, air mata ‘Umar bin
Khaththab RAmeleleh dan ia tidak
kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi Nabi saw..
Lalu Nabi saw. bertanya sambil
melihat air mata ‘Umar RA yang
berjatuhan, “Apa yang
membuatmu menangis, Ibnu
Khaththab?” ‘Umar RA menjawab dengan
kata-kata yang bercampur-aduk
dengan air mata dan
perasaannya yang terbakar,
“Wahai Nabi Allah, bagaimana aku
tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda,
sedangkan aku tidak melihat
apa-apa di lemari Anda? Kisra
dan kaisar duduk di atas tilam
dari emas dan kasur dari beludru
dan sutera, dan dikelilingi buah- buahan dan sungai-sungai,
sementara Anda adalah Nabi dan
manusia pilihan Allah!”
Lalu Nabi saw. menjawab dengan
senyum tersungging di bibir
beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat
datangnya, dan kebaikan itu
pasti terputus. Sementara kita
adalah kaum yang kebaikannya
ditunda hingga hari akhir.
Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia
untuk mereka?”
‘Umar menjawab, “Aku
rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban
dan Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai
Rasulullah, sebaiknya Anda
memakai tikar yang lebih lembut
dari tikar ini.”
Lalu, Nabi saw. menjawab dengan
khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia?
Perumpamaan diriku dengan
dunia itu tidak lain seperti orang
yang berkendara di suatu hari di
musim panas, lalu ia berteduh di
bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
******
Jika kehidupan tauladan kita saja
sangat sederhana, bahkan jauh
di bawah kita, mengapa kita yang masih dapat memikirkan
makanan apa yang akan di
makan besok lalu mengeluh
mengenai kekurangan secara
materi yang terkadang tak
beralasan. Karena kata Rasulullah pun kebaikan sejati untuk umat
muslim di tunda atau bukan di
dunia melainkan di akhirat kelak.
Karena Allah Maha Mengetahui,
bahwa dunia adalah
persinggahan. Jadi tak perlu menggadaikan akhirat yang lebih
kekal dengan kebaikan yang
berlimpah yang telah Allah
persiapkan bagi orang beriman
dengan kemewahan dunia yang
hanya sementara. Jauh berbeda apa yang saya
lihat di zaman ini, pemimpin (yang
notabene adalah wakil rakyat)
justru mendapat fasilitas yang
sangat mewah. Terlebih lagi
dengan apa yang di dapat, mereka tak pernah merasa
cukup. Bahkan terus menerus
berusaha memperkaya diri
dengan berbagai cara. Berbeda
dengan rakyat yang mereka
pimpin, begitu menderita. Bahkan tembok harta telah membuat
batas yang tak bisa di bendung
saking tebalnya. Sangat berbeda
dengan pemimpin kita Rasulullah
Muhammad Shallahu’alaihi
wassalaam. Salah satu penyebab mengapa
banyaknya ketimpangan sosial
yang terjadi adalah sifat malu
yang teramat sangat. Memang
benar malu adalah sebagian
daripada iman. Tapi malu yang bagaimana?
Jikalau malu untuk berbuat
maksiat kepada Allah itu bisa di
sebut malu yang merupakan
sebagian daripada iman. Tapi
malu yang tidak diperbolehkan yaitu malu untuk hidup
sederhana. Mengapa ?? karena
bisa saja dengan bersikap
sederhana meskipun Allah
menganugerahkan harta yang
berlimpah dapat mengurangi kesenjangan sosial.
Misalnya, tak ada lagi ajang
pamer kemewahan di jalan raya
dengan berlomba mengendarai
transportasi yang canggih,
pakaian-pakaian mewah dengan perhiasan mentereng atau
telepon genggam mahal yang
berseliweran di jalan yang
mampu mengundang para
penjambret dadakan (karena
terkadang mereka para penjambret bukan sengaja
melakukan kejahatan tapi
terpaksa karena terdorong
ekonomi yang sulit) untuk
beraksi. Karena sederhana bukan
berarti hina. Dengan kesederhanaan kita
mampu merasakan apa yang
terjadi pada orang-orang yang
kurang beruntung di banding
kita. Selain itu akan melatih hati
kita untuk peka akan keadaan sekitar. Sesungguhnya ujian
bukan hanya melalui kesulitan
tapi juga bisa melalui harta
berlimpah. Jika tak pandai kita
mengelolanya maka bencana
yang akan di dapat. Karena Allah hanya melihat
seseorang dari ketaqwaannya
dan bukan dari melimpahnya
harta yang di miliki. Orang yang
sebenarnya kaya adalah orang
yang sederhana namun memiliki sifat mulia. Bahkan harta tak
mampu membuatnya berpaling
dari Allah.
Allahua’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: