VO BACELL MUSLIM

Beranda » Keluarga Muslimah » Istri Shalihah: Mendukung Suami dalam Kebajikan dan Ketakwaan

Istri Shalihah: Mendukung Suami dalam Kebajikan dan Ketakwaan

Manusia memang diciptakan berbeda- beda. Lain kepala lain pula pikirannya. Termasuk wanita dan istri bagi suaminya. Ada tipe istri yang menjadi fitnah bagi suami, ia menghalangi suami untuk menuntut ilmu atau mengupayakan nilai-nilai luhur. Jika suami hendak berinfak, ia menolaknya. Jika suami ingin pergi berdakwah, ia berdiri menghalangi jalannya. Sakit kepala seolah-olah bisa dipesan kapan harus menyerang, agar suami tidak pergi. Tiada yang diinginkan dari
suami selain agar suami memuaskan segala kesenangannya dan memenuhi berbagai tuntutannya, meski harus mengorbankan sebagian kewajiban suami. Maha Benar Allah di dalam firman-Nya, “Hai orang-orang
mukmin,sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (At- Taghabun [64] : 14) Keluhan tentang godaan istri adalah fenomena klasik. Sering terjadi seorang istri membelokkan suami yang memiliki ambisi besar dari meraih impiannya. Berapa banyak orang-orang besar dan patriot yang mengeluhkan masalah ini. Simak saja penuturan salah seorang dari mereka menjelaskan akibat buruk yang ia rasakan karena memperturutkan syahwat istri : Aku turuti semua keinginan istriku, sampai-sampai aku laksana hamba sahaya baginya Namun bila aku pergi meninggalkannya, ia memeluk, mencium atau melacurkan diri[1] Karenanya, tidak pantas bila seorang istri muslimah menjadi batu penghalang di jalan suami, menghalangi langkahnya untuk taat kepada Allah, berdakwah di jalan-Nya, bersegera dalam menunaikan kebaikan atau berlomba untuk menuju pintu- pintu kemuliaan. Bahkan, seharusnya ia membantu suami mewujudkan semua itu, sebagai pemenuhan perintah Allah, “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (Al-Maidah [5] : 2) Ia bisa melakukannya dengan menunaikan tanggung jawab pekerjaan rumah, memperhatikan pendidikan anak, atau mengorbankan sedikit waktu istirahatnya. Semua itu menjadi bukti kebijaksanaan pikirannya, kekuatan agamanya dan kemuliaan akhlaknya. Bahkan, kesuksesan suami –pada hakikatnya– adalah kesuksesan
istri itu sendiri. Karenanya, terdapat ungkapan, “Di belakang setiap orang besar ada seorang perempuan.” Semoga Allah merahmati Ar-Rafi’i ketika ia berkata, “Setinggi apa pun ilmu
yang dikuasai seorang wanita, laki-laki tetap lebih unggul darinya, karena status laki- lakinya. Akan tetapi, seorang wanita sejati adalah ia yang tercipta untuk menjadi materi pensuplai keutamaan, kesabaran dan keimanan laki- laki. Ia menjadi ilham, inspirasi, kehormatan, dan kekuatan laki-laki. Ia menjadi pengobar kegembiraan laki-laki dan penawar laranya. Di dalam kehidupan ini, seorang wanita tidak menjadi lebih agung dari laki-laki, kecuali dengan satu hal, yaitu sifat-sifatnya yang menjadikan suaminya lebih agung daripada dirinya.”[2] Dalam kesempatan lain, Ar-Rafi’i menuturkan, “Kehormatan besar menjadi milik perempuan yang berhasil menjadikan manusia besar dalam kemanusiaannya, bukan perempuan yang menjadikan manusia besar dalam kebinatangannya. Meskipun perempuan tipe kedua ini biasa disebut cantik oleh manusia, tetapi sejatinya ia buruk, tidak cantik. Sebab, seorang mukmin dengan keimanan yang shahih mesti hidup bersama apa yang memperbaiki manusia, bukan apa yang dianggap baik oleh manusia.”[3] Ibunda kita, Hajar, ibu Isma’il. Yakni ketika ayahanda kita, Ibrahim, meninggalkan dirinya bersama putranya di tengah tanah tandus tanpa makanan dan minuman, tanpa pendamping dan penghibur. Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana kamu hendak pergi meninggalkan kami di tengah lembah ini, tanpa pendamping dan tanpa sesuatu apa pun?” Hajar mengulang-ulang pertanyaannya. Ibrahim tak sedikit pun menoleh ke arahnya. Lalu, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” Barulah Ibrahim menjawab,
“Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Dia tidak akan menyia- nyiakan kami.”[4] Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, seorang perempuan shalihah, gemar menasihati, jujur dan cerdas. Yakni ketika Rasulullah saw datang kepadanya dari gua Hira’ dengan hati gundah dan tubuh gemetar, pada saat beliau sangat membutuhkan seseorang untuk menghibur dan meredakan rasa takutnya, yaitu setelah Jibril turun kepada beliau dengan membawa
kebenaran dari Rabbnya. Beliau datang kepada Khadijah seraya berkata, “Aku takut terhadap diriku sendiri.” Pada saat demikian, Khadijah berkata dengan nada menghibur, “Tidak
demikian. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya kamu orang yang gemar menyambung
silaturrahim, meringankan beban orang yang kesusahan, memberi bantuan kepada orang yang kekurangan, memuliakan tamu dan membantu menegakkan kebenaran.”[5] Terakhir, tentu tidak hilang dari pikiran Anda wahai istri, bahwa tindakan suami istri yang saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan memiliki pengaruh besar dan dampak positif bagi mereka sendiri maupun bagi keluarga mereka sekarang dan yang akan datang. Pengaruhnya di waktu sekarang, bahwa merebaknya spirit ini di dalam rumah menjadi sebab turunnya rahmat, terwujudnya ketenangan dan kesinambungan
cinta. Spirit tersebut juga berdampak pada keshalihan anak-anak, kecintaan mereka kepada Allah, pengagungan mereka terhadap ritual-ritual- Nya, serta ringannya mereka menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan pengaruh di waktu mendatang, bahwa keshalihan orang tua akan membekas pada diri anak-anak. Lihat saja Khidhir ketika membangun kembali dinding yang sudah roboh dengan suka rela, ia berkata : “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih.” (Al- Kahfi [18] : 82) Selanjutnya, bila suami istri meninggalkan dunia dalam kondisi iman dan takwa, niscaya Allah akan mengumpulkan mereka berdua di surga-Nya, dan mereka akan mendapat manfaat dari doa anak-anak mereka yang shalih. [6] (A. Ahmad) Disarikan dari buku 26 Dosa Istri, Muhammad bin Ibrahim Al- Hamd, Kiswah Media, dengan beberapa perubahan redaksi. [1] ‘Uyun Al-Akhbar, I : 243. [2] Wahyu Al-Qalam, II : 151. [3] Ibid., I : 155. [4] Lihat Shahih Al-Bukhari, 3364, diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas dengan redaksi panjang. [5] Penggalan dari hadits yang diriwayatkan Bukhari (3), Muslim (160) dan perawi lain, dari Aisyah x, tentang kisah panjang permulaan turunnya wahyu. [6] Lihat Dr. Muhammad bin Isma’il, ‘Audah Al-Hijab, II : 264-265.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: