VO BACELL MUSLIM

Beranda » Uncategorized » Strategi Katolik Van Lith: Meminggirkan Melayu, Membiarkan Mistik Jawa

Strategi Katolik Van Lith: Meminggirkan Melayu, Membiarkan Mistik Jawa

SOLO – Bertumbuh kembangnya misi Katolik di Jawa tidak dapat dipisahkan dari kiprah Fransiscus Georgis Josephus van Lith atau dikenal dengan Frans van Lith. Ia adalah seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda yang
meletakkan dasar Katolik di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Ia pula mengkristenkan Jawa dan menumbuhkan misionaris dari kalangan pribumi. Ia datangi keluarga bangsawa di sekitar
Kraton Yogyakarta dan Pakualam.

Dengan didapatkannya bibit unggul dari kalangan priyayi, telah melahirkan kelompok elit baru yang menjadi panutan
di lingkungannya masing-masing.

Usaha Van Lith tidak sia-sia.

Terbukti pada tahun 1940, Mgr. Soegijopranoto ditahbiskan sebagai uskup pribumi pertama di Indonesia. Van Lith lah, misionaris yang membabtis orang-orang Jawa pertama di Sendangsono, mendirikan sekolah guru di
Muntilan, memperjuangkan status pendidikan orang pribumi pada masa
pendudukan colonial Belanda. Pada 14 Desember 1904, Van Lith membaptis 171 orang desa dari daerah Kalibawang di Sendangsono, Kulon Progo. Peristiwa ini dipandang sebagai lahirnya Gereja
diantara orang Jawa, dimana 171 orang menjadi pribumi pertama yang memeluk Katolik.

Lokasi pembatisan ini yang
sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono. Ketokohan Van Lith ini dikenang secara khusus oleh kunjungan Paus Yohanes
Paulus II di Yogyakarta pada tanggal 10 Oktober 1989. Dalam pidatonya yang
disampaikan di hadapan puluhan ribu umat Katolik di stadion Kridosono Yogyakarta, Paus Paulus Yohanes II menyampaikan,
bahwa kedatangannya adalah untuk mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat Katolik di Pulau Jawa, yaitu Romo Van Lith dan dua orang muridnya, Mgr. Soegijapranata dan IJ Kasimo. Tahun 1904, Van Lith menkonsentrasikan
kegiatannya pada pengembangan sekolah.
Sejalan dengan kebijakan politik etis Belanda, peran guru menjadi sangat
sentral dalam masyarakat. Apalagi Van
LIth mulai merasakan keberhasilan misi dalam menkonversikan keagamaan pada
murid di Kolese Xaverius. Pembukaan sekolah-sekolah desa sejak
tahun 1907 merupakan permulaan riil dari
pendidikan massal mengikuti cara Barat di
seluruh wilayah Hindia Belanda, tebukti
mendatangkan peluang kerja yang besar
bagi jebolan sekolah Muntilan. Anak-anak lelaki yang masuk sekolah ini semuanya
muslim. Mereka semua tamat sebagai
orang Katolik. Tahun 1940, Mgr.
Soegijapranata ditahbiskan sebagai uskup
pribumi pertama di Indonesia. Inkulturasi Ala Van Lith Meskipun pendidikan menjadi strategu
utama Van Lith dalam melakukan
penetrasi misi Katolik ke kalangan pribumi,
akan tetapi Van Lith juga tidak
melupakan strategi kebudayaan yang
diharapkan dapat mengembangkan Katolik di Jawa. Itulah sebabnya Van Lith
mengadopsi unsure-unsur budaya Jawa
yang sudah dilepaskan unsur
keislamannya. “Strategi Yesuit atau misi Katolik pada
paruh abad ke-20, hal yang dianggap
penting adalah penyesuaian dengan
budaya Jawa. Semua konfrontasi langsung
dengan agama Islam mesti dihindari.”
Demikian Kareel Steenbrink dalam tulisannya. Bagi Van Lith, orang Jawa yang masuk
Katolik justru disarankan untuk
menjauhkan diri dari kebudayaan Eropa,
karena masuk Katolik bukan berarti
menerima peradaban Barat. Sebaliknya,
orang Katolik justru harus melanjutkan hidupnya dalam kebudayaan Jawa. Beberapa langkah pragmatis Van Lith
dalam mengintervensi budaya Jawa
diantaranya adalah dengan menghadiri
selamatan orang Islam, terus
melaksanakan khitan, yang pada
umumnya bukan merupakan hal yang sulit bagi orang-orang Katolik, asal mereka
tidak diwajibkan mengikuti doa Islam yang
dipakai di acara itu. Van Lith menyadari bahwa proses
Islamisasi yang belum selesai di Pulau Jawa
memberikan peluang yang besar untuk
misi penginjilan secara luas. Oleh karena
itu,Van Lith melakukan sekularisasi budaya Jawa, yaitu memilahkan
unsur-unsur pembentuk budaya
Jawa dan menyingkirkan variable
Islamnya, Penolakan terhadap
pengajaran bahasa Melayu juga
dimaksudkan untuk mencegah masuknya pengaruh Islam, sebab
bahasa Melayu identik dengan
pengembangan dakwah Islam. Uniknya, Van Lith pernah mengusulkan
supaya orang Katoliok dikawinkan oleh
penghulu, karena penghulu tidak
dianggapnya sebagai pegawai atau
pejabat agama, tetapi sebagai sipil saja:
selama penghulu mengawinkan tanpa formula Islam, maka mestinya orang
Katolik tetap kawin dihadapan penghulu. Eksperimen budaya yang dilakukan Van
Lith memang tidak selamanya berhasil.
Upaya untuk menikahkan pasangan
Katolik dihadapan penghulu tidak pernah
direalisasikan. Meski demikian, pemisahan
antara budaya Jawa dengan Islam terus berjalan intensif. Generasi Katolik Pribumi
didikan Van Lith terbukti mampu
melahirkan banyak tulisan mengenai
budaya Jawa. Sebut saja tulisan tentang
tarian-tarian orang Jawa, Masjid di Jawa,
gamelan, rumah pangeran Jawa dan Gereja Katolik bergaya Jawa. Artikel-
artikel tersebut dimuat dalam majalah St.
Claverbond yang terbit 10 kali setiap
tahun. Ada satu karya tulis dari pastur Jesuit
yang dianggap mampu menangkap inti
dari kebudayaan Jawa, yaitu disertasi
dari Petrus Joshepus Zoetmulder yang
terbut di tahun 1935 (telaah Serat
Centhini dan karya sastra suluk Jawa). Mengenai Zoetmulder ini, Prof. Mukti Ali
sampai harus member catatatn khusus.
Pastor Zoetmulder dengan serius
mempelajari agama-agama di Jawa
termasuk Islam, khususnya Islam Jawa. Ia
juga membahas aspek-aspek mistik Islam dan mistis Islam Jawa. Mengikuti Van Lith, pastor Zoetmulder
berupaya meminggirkan peran Islam dalam
membentuk theology Jawa, dan
menjadikan pandangan Atman dari tradisi
Hindu sebagai actor utama pembentuk
theology Jawa. Misionaris Lain Selain Van Lith – untuk wilayah
Yogyakarta, ada nama lain yang menjadi
pioneer misi Katolik di Pulau Jawa. Tokoh
misionaris itu adalah Pastor Henri Van
Driessche, seorang berkebangsaan
Belanda yang berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Jawa. Dengan bahasa Jawa
halus, ia telah menempatkan orang Jawa
pada posisi yang dihormati. Bahkan Pastor
Henry berusaha untuk melebur/menyatu
dengan kultur Jawa demi menjalankan
misinya. Melantunkan tembang Jawa dengan kearifan lokal, salah satunya. Pastor Henry Van Driessche memulai
pengajaran agama Katolik untuk
masyarakat Yogyakarta di rumah R.P.
Himawidjaja (orang tua salah satu siswa
kolese Muntilan). Meskipun jumlah siswa
saat itu masih sedikit, jerih payah pastor Henry membuahkan hasil. Pada 5 Agustus
1915, ia mulai melakukan pembatisan,
yang kemudian disusul dengan pembatisan
baru terhadap 13 orang dewasa pada Juli
1916. Lebih lanjut, seiring dengan semakin
banyaknya jemaat, Pastor Henry mulai
memikirkan perlunya suatu tempat ibadah
khusus bagi orang-orang Jawa, sebab
gereka yang ada, yaitu Santo Fransiskus
Xaverius terlalu kecil untuk menampung umat Eropa dan Jawa secara bersama-
sama. Untuk itu Henry mengatur sebuah
ruangan yang cukup besar sebagai
tempat ibadat yang kemudian cikal bakal
Gereja katolik Santo Yusup
Secodiningratan.[desastian]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: