VO BACELL MUSLIM

Beranda » Uncategorized » Mereka Orang Yang Merugi

Mereka Orang Yang Merugi

Semua manusia yang hidup di
dunia ini pasti tidak akan
menginginkan hidup dalam
kerugian. Seorang pedagang
akan selalu bekerja dengan
sungguh-sungguh agar niaganya laris dan dia mendapat banyak keuntungan. Seorang pelajar
akan serius belajar agar dia
berhasil dalam belajarnya dan
tidak termasuk orang yang
merugi.

Di zaman yang semakin maju
dengan berbagai kemajuan
teknologi dan ilmu pengetahuan ini. Hampir semua manusia mengartikan kerugian adalah mereka yang rugi secara materi.

Seseorang yang kehilangan harta benda dikatakan merugi.

Seseorang yang tertipu dalam sebuah bisnis disebut merugi.

Seorang yang hidupnya
terpenjara disebut juga sebagai orang yang rugi.

Maka dapat disimpulkan, patokan sebuah kerugian adalah ketika seseorang rugi secara materi semata. Padahal seebenarnya Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah telah menjelaskan arti dari kerugian yang sebenarnya. Di dalam Surat Al ‘Asr Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa pada dasarnya semua manusia yang hidup di dunia ini dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan
kebaikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Inilah salah satu kerugian
pertama yang dijelaskan di dalam Al qur’an yaitu merugi waktu atau zaman. Berapa banyak orang yang hidup
bertahun-tahun lamanya namun sedikit sekali beramal untuk kepentingan Akhirat.

Berapa banyak manusia yang
membiarkan dirinya terus
menerus berada dalam dunia
kemalasan tanpa berusaha untuk keluar darinya.

Berapa banyak orang yang melihat sebuah kemungkaran terjadi di depan mata, tapi tidak mengingkarinya dengan tangan, lisan, dan hatinya. Bahkan tidak sedikit dari manusia justru mengikuti
kemungkaran itu.

Mereka inilah orang-orang yang membuang waktunya berjalan tanpa memberikan manfaat baik untuk diri atau orang lain.

Mereka adalah orang yang telah memberikan kerugian pada diri mereka sendiri.

Kemudian kerugian yang kedua adalah merugi kekuatan.

Apabila kita berbicara tentang kekuatan maka akan kita dapati bahwa kekuatan itu ada di dalam jiwa para pemuda. Kekuatan seorang
pemuda untuk beramal atau
bekerja tentu berbeda dengan orang yang sudah dimakan usia. Semangat seorang pemuda adalah semangat yang tidak mudah untuk dipadamkan walau
dengan berbagai cara.

Untuk itulah kenapa Rasulullah
Shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umatnya dalam sebuah hadsit untuk benar-benar memperhatikan masa muda sebelum datang masa tua.

“Dari Ibnu Abbas dia berkata: telah bersabda Rasululloh, seraya menasehati seseorang: Jagalah olehmu lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga masa lapangmu
sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang
kematian”.(Mustadrok Hakim kitab roqooq :4/306)

Akan tetapi, sebuah realita yang menyedihkan dalam masyarakat kita adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa masa muda adalah masa foya-foya. Mereka menghabiskan waktu untuk selalu bermain, bersenda gurau berlebihan, dan pesta-pesta tanpa pernah untuk memikirkan kehidupan akhirat. Mereka tidak menyadari bahwa seharusnya kekuatan yang ada pada diri mereka digunakan untuk hal-hal yang bersifat positif dan diridhoi
oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Di dalam hadist yang lain
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira dengan naungan Allah
pada hari akhir kepada pemuda yang tumbuh besar dengan beribadah kepada Allah.

Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah… (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, sebuah realita yang kita temui saat ini adalah sedikitnya jumlah pemuda yang hadir mengikuti jama’ah subuh di masjid –kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah-. Masjid masih saja di dominasi oleh orang-orang yang tidak lagi berusia muda atau bisa jadi hanya ada kakek-kakek yang lanjut usia. Sebuah pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada para pemuda adalah, apakah
mereka bisa menjamin kematian itu datang hanya kepada yang lanjut usia ? Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﺟَﺎﺀَ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻢْ ﻭَﻟِﻜُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃَﺟَﻞٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ‎ ‎ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺧِﺮُﻭﻥَ ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻘْﺪِﻣُﻮﻥَ

“Dan setiap umat mempunyai
ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau mempercepat sesaat pun.” (Qs. Al-A’raf: 34)

Sudah saatnya bagi seorang
muslim untuk menghindarkan
dirinya dari kerugian yang akan mendatangkan penyesalan apabila terus-menerus berkubang di dalamnya. Sedangkan Allah tidak akan merubah seseorang kecuali dia
berusaha untuk merubah dirinya.

Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman:

ﻳﻐﻴﺮ ﻣﺎ ﺑﻘﻮﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﻐﻴﺮ ﻣﺎ ﺑﺄﻧﻔﺴﻬﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka.” (Qs. Ar-ra’d: 11)

Semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita kebaikan di dunia dan Akhirat, serta menjauhkan kita dari api Neraka. Wallahu A’lam (ehsan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: