VO BACELL MUSLIM

Beranda » Uncategorized » ETIKA FILM DAN SIMBOL AGAMA

ETIKA FILM DAN SIMBOL AGAMA

KETIKA memproduksi Film 2012, Sutradara Rolland Emmerich bermaksud memasukkan Mekah, yang didalamnya ada Masjidil Haram sebagai salahsatu bangunan yang ikut dihancurkannya dalam film yang bertemakan kiamat itu. Namun atas saran Harald Kloser— sang penulis naskah, Rolland akhirnya mengurungkan niatnya. Alhasil, film berdurasi 158 menit yang diproduksi sejak 2008 dan ditayangkan pada 2011 di Indonesia ini, tidak kita temukan Masjidil Haram hancur seperti halnya St. Petters Basilica di
Roma, atau Gedung Putih di Amerika selama suasana peristiwa kiamat digambarkan secara detail dan apik. Rolland bukanlah sutradara baru
atau orang yang baru kenal film,
hingga memutuskan untuk tidak
menghancurkan Mekah sebagai
mana menimpa patung Yesus
Kristus di Rio De Jaeniro, Brazil, atau kuil di Tibet. Rolland merasa
perlu mendengarkan pendapat
orang lain, sebelum memutuskan
perlu dihancurkan/tidaknya situs
kebanggaan yang sangat dihormati
oleh milyaran umat Islam di dunia itu. Terbukti, Rollad pun mengakui
benar atas apa yang baru saja
dilakukannya. Bagi sutradara Film
Stargate (1994), Independence
Day (1996), The Day After
Tomorrow (2004), 2012 (2009), dan Anonymous (2011) ini, lebih
baik meninggalkan sesuatu yang
menyebabkan dirinya dibenci di
seluruh dunia gara-gara sebuah
fatwa yang bisa saja dikeluarkan
sehingga bisa membuatnya rugi di seluruh dunia. “Well, I wanted to do that, I have
to admit. But my co-writer Harald
said I will not have a fatwa on my
head because of a movie. And he
was right. We have to all in the
Western world think about this. “You can actually let Christian
symbols fall apart, but if you would
do this with Arab symbol, you
would have a fatwa, and that
sounds a little bit like what the
state of this world is,” ujar Rolland suatu saat. Adalah hak seorang Rolland ketika
dirinya memutuskan untuk
menghancurkan Patung Yesus
Kristus sebagai simbol Kristen, dan
memilih tidak menghancurkan
Mekah sebagai simbol Islam. Meskipun dua-duanya bisa dia
lakukan, namun pertimbangan
Rolland maupun penulis naskah
Harald Kloser sebagai orang film
profesional untuk menghindari
kutukan dan kebencian terhadap mereka dari umat Islam seluruh
dunia, menurut saya cukup
menarik. Apalagi, baik Rolland
maupun Harald, bukanlah Muslim
sehingga keputusan untuk
menghormati simbol agama Islam oleh mereka, patut dijadikan
pelajaran berharga bagi sutradara
Muslim dimanapun, termasuk di
Indonesia. Awal tahun 70-an, tepatnya tahun
1973, sebuah film The Exorcist
karya William Friedkin yang menuai
kontroversi karena
menggambarkan seorang gadis
melakukan masturbasi di Gereja. Film ini sebenarnya
menggambarkan adanya seorang
gadis cilik yang kesurupan,
sehingga perilakunya bisa dibilang
sangat menyimpang. Meski begitu,
bukan berarti pihak Gereja menerima begitu saja alasan William
untuk menempatkan Gereja
sebagai tempat masturbasi. Pada tahun 1988, sebuah Film The
Last Temptation of Christ karya
Martin Scorsese akhirnya tutup di
hampir semua negara yang akan
menayangkannya. Pihak Kristen
berkeberatan karena di dalam Film tersebut digambarkan Yesus
Kristus sedang meniduri Maria
Magdalena. Para pemrotes tidak
mau melihat Yesus Kristus
digambarkan sebagai manusia yang
memiliki nafsu dan bersenggama. Tahun 2004 silam, sebuah film
garapan Mell Gibson The Passion of
the Christ yang mengisahkan kisah
detik-detik penyaliban Yesus
Kristus. Film ini ditentang karena
dituduh oleh Yahudi telah mempermalukannya. Namun, Gibson
selamat karena kisah itu diakuinya
memang berasal dari Kitab
Perjanjian Baru. Setelah itu, banyak film
penghinaan terhadap simbol Islam
bermunculan di dunia maya,
bahkan sekarang lebih bervariasi
karena dibumbui dengan kartun
nabi dan sebagainya. Di Indonesia, mungkin hanya
Sutradara Hanung Bramantyo saja
yang berani secara terbuka
melakukannya. Pada Film
“?” (baca: tandatanya), Hanung
sengaja membuat penonton marah. Pasalnya, dalam film yang dibuat
bersamaan dengan perayaan Natal
2011 ini, Hanung tidak takut men-
set up Masjid sebagai background
adegan ritual ibadah pemeluk
Kristiani. Pada sebuah adegan, digambarkan seseorang yang
berlatih menjadi Yesus yang
sedang memanggul kayu salib.
Latihan menjadi Yesus yang sedang
memanggul kayu salib ini dilakukan
di areal Masjid. Selain itu, Hanung juga dengan
sangat jelas mempertontonkan
adegan SARA karena membiarkan
aktor etnis China mengucapkan
“Dasar Teroris Anjing!” kepada
jamaah Masjid, dan sengaja membenturkan antara Muslim
dengan China, dengan adanya
ucapan “Dasar China!” oleh
jamaah Masjid. Tidak hanya itu.
Gambaran pengeboman gereja,
penusukan pendeta, dan penyerangan restoran China oleh
sekelompok remaja Muslim
bersarung dan berpeci,
mengesankan kebencian yang
amat dalam dalam film tersebut
kepada Islam. Saya sendiri tidak tahu, apakah kebencian ini berasal
dari diri Hanung pribadi, ataukah
dari produser yang membiayai
produksi film itu. Yang pasti, film ini
semakin menjadi alasan kemarahan
banyak pemeluk Islam tanah air kepada Hanung. Belakangan, Hanung Bramantyo
kembali merelease film terbarunya
berjudul Cinta Tapi Beda (CTB).
Nyaris sama dengan film “?”, film
ini juga sarat dengan pesan
underestimate terhadap Islam. Percakapan demi percakapan
antar pemeran sengaja dibuat
dengan mengarahkan pentingnya
mengalahkan keinginan kitab
sucinya dibanding keinginan nafsu
birahi dan kepentingan duniawi semata. Negara Indonesia yang
tidak memberikan ijin resmi nikah
beda agama, dibuat guyon dalam
film itu. Juga, ketidaklaziman
seorang anak yang menceramahi
orangtuanya soal agama Islam, padahal si oranguta adalah tokoh
Muslim masyarakat di Jogja.
Bahkan, film itu diakui banyak
masyarakat Minang, telah melukai
mereka gara-gara pemilihan
setting Minang sebagai salahsatu basic salahsatu pemeran beragama
katolik. Meski tidak dijelaskan, namun dari
properti konten film, misalnya buku
tentang Nikah Beda Agama, atau
gambar-gambar Gus Dur di akhir
film itu, menggambarkan betapa
dekatnya misi film itu dengan tujuan tokoh-tokoh Liberalis Islam
di Indonesia. Memang secara umum, dengan
alasan kebebasan berekspresi,
membuat film tidak ada batasan
pasti kebebasannya. Namun soal
etika, tampaknya tidak
dipertimbangkan oleh Hanung. Hampir semua film besutannya
yang berlatar belakang religiusitas,
selalu bercirikan kesengajaan
pelunturan keyakinan dan
pengeroposan ketaatan pemeluk
Islam. Alih-alih memperbaiki cara pandang
generasi muda tentang
keyakinannya, banyak film-film
Hanung malah sebaliknya.
Bagaimana tidak, Hanung lebih
memilih tema benturan ketimbang edukasi. Misalnya Film Perempuan
Berkalung Sorban yang dengan
nyata menggambarkan kebusukan
Pesantren. Atau film CTB yang
merupakan film terbaru Hanung.
Seperti dalam film ini, ternyata Hanung lebih suka mengambil tema
cinta berbeda agama, ketimbang
misalnya larangan Shalat Jumat
bagi karyawan Muslim di
perusahaan misalnya. Atau tema
susahnya menegakkan aturan pendirian tempat ibadah. Atau, jika
Hanung concern di isu diskrimasi
minoritas, bisa saja Hanung
membuat Film dengan tema
misalnya adanya muslimah dilarang
berjilbab di hotel. Atau satu lagi, adanya larangan lelaki
mengenakan sarung masuk lounge
hotel di Jakarta. Masih banyak
tema kontroversi lain yang tidak
harus melukai Umat Islam. Sayangnya, ini hanyalah harapan
kosong. Bahkan kemarahan demi
kemarahan bermunculan pun, saya
yakin tidak akan bisa mengubah
sikap Hanung. Ini bisa terjadi,
bukan tanpa alasan. Mungkin ini terjadi karena adanya kekuatan
lain yang mendorongnya untuk
“istiqamah”. Misalnya, soal siapa
penyokong di semua film besutan
Hanung itu. Atau, bisa saja karena kedekatan
ideologi Hanung dengan kelompok
Islam Liberal yang cukup kuat
sehingga membuat Hanung berani
berbeda dan tidak malu
melakukannya. Pada sebuah wawancara dengan Radio KBR 68H
27 Oktober 2010, ada sebuah
penggalan kalimat Hanung yang
cukup membuat saya maklum. “Pada saat proses pembuatan film
Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak
melakukan shalat apa pun. Saya
tidak shalat. Itu pada saat bulan
Ramadlan. Saya juga tidak puasa
dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total & saya
percaya dengan kemampuan otak
saya. Jadi saya menisbikan sesuatu
yang berada di luar otak.
Sementara yang religius itu tidak.
Saya tidak percaya itu semua,”kata Hanung. Berbeda dengan Indonesia,
sembilan tahun silam, tepatnya
tahun 2004, sebuah film berjudul
Submission menukai kecaman
bernuansa kekerasan di Belanda.
Film pendek ini, disutradarai oleh Theo Van Gogh, dan skenario
ditulis oleh bekas anggota
Parlemen Belanda, Ayaan Hirsi Ali.
Belum diketahui, siapa yang ada di
belakang pembuatan film
penghinaan atas simbol Islam ini, yang jelas sang Sutradara
mendapatkan banyak ancaman
karena dianggap menghina dan
melecehkan Islam. Film ini sendiri
mengisahkan perempuan-
perempuan bercadar yang disiksa suami, diperkosa dan sengaja
menulis ayat Al Qur’an di tubuh
mereka. Ketika film ini ditayangkan
pada 29 Agustus 2004, segenap
warga Muslim Belanda
memprotesnya, hingga berujung pada tewasnya sang Sutradara,
dua bulan kemudian. Sutradara film
ini terbunuh oleh pelaku yang
beragama Islam. Tentu kita tidak berharap ini
terjadi di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: