VO BACELL MUSLIM

Start here

Ilaa Ukhtina Habibah

Ingin kami ucapkan beberapa
kalimat
kepadamu ukhti. Lewat surat
ini, dari kami yang berada di
bawah desingan peluru musuh
dan gelegar ledakan roket, juga dari kami yang kini terpaksa
meringkuk di balik
jeruji besi hanya karena kami
menyatakan bahwa “Tuhan Kami
Adalah Allah”, untukmu Ukhti
Muslimah… karena kau adalah permata. Kau juga
perhiasan mulia yang
melengkapi keindahan ajaran
Nabi Shalallahu “Alahi Wasallam.
Beberapa kalimat yang kami
tulus keluar dari lubuk hati kami sebagai saudara yang
bersama melaju ke arah yang
satu. Demi menyelamatkanmu
dari cakaran manusia serigala
berbulu domba. Ukhti Muslimah….!!!
Kami tidak akan membawa sesuatu
yang baru, semoga kau tidak
bosan mendengarnya…. walau
rasanya sudah berkali-kali kami
ingatkan bahwa tiada agama
manapun yang lebih memuliakan wanita sebagaimana Islam. Jika
kau masih tidak percaya,
lihatlah pada sejarah .. apa
yang dilakukan oleh penghuni
zaman jahiliyah terhadap
kaummu, bukankah mereka menguburmu hidup-hidup hanya
karena takut jatuh miskin atau
durhaka? Entah apa yang
mereka cari.
Betapa jauh mereka
menghinakanmu. Betapa buruknya gambaranmu di mata
mereka. Bagi mereka, kau tidak
lebih dari sekerat tebu segar,
yang setelah manis sepah
dibuang…. Kemudian belum puas
dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi
hak-hak wanita…sungguh
sebuah penyesatan dan
pendustaan yang nyata.
Bukankah engkau adalah yang
paling banyak diperjual belikan bagai barang rongsokan,
sebagai hamba sahaya di zaman
kerajaan Romawi? Bahkan
hingga kini….. di suatu zaman
yang mereka juluki zaman
kebebasan dan kemerdekaan, mereka teruskan tradisi itu.
Hanya saja,… kini mereka
bungkus dengan kata kontes
ratu kecantikan, yang
memperlombakan ukuran tubuh
terbaik bagi para lelaki hidung belang.Bagi mereka, kau tidak
lebih dari sekerat tebu segar,
yang setelah manis sepah
dibuang…. Kemudian belum puas
dengan itu mereka masih
melolong bahwa Islam menzalimi hak- hak wanita…sungguh
sebuah penyesatan dan
pendustaan yang nyata. Ukhti
Muslimah….!!! Usaha perbaikan
dirimu adalah sebuah
cita-cita abadi dan tujuan yang mulia serta harapan seluruh
Arsitek bagi proyek perbaikan
umat. Karena mereka tahu,
kunci perbaikan umat ini ada
pada dirimu, jika dirimu baik…
maka baiklah seluruh umat ini. Demi Allah..!!! berpeganglah
dengan tali ajaran agama ini.
Laksanakan segala perintahnya.
Jangan langgar larangannya,
apalagi mempersempit hukum
haramnya. Karena semua itu hanya akan lebih mengekang
kehidupanmu sendiri. Karena
tiada keadilan yang lebih luas
dari keadilan Islam terhadapmu
dan kaummu. Jika kau lari dari
keadilan Islam, kau hanya akan menemui kedzaliman dunia
terhadap hak-hak
kehidupanmu. Berpeganglah
sebagaimana Umahatul Mukminin
mencontohkannya dalam
kehidupan sehari hari mereka. Teladani isteri-isteri para
sahabat dan kaum Muslimin
yang telah membuktikan nilai
keindahan permatamu. Ukhti
Muslimah…!!! Ketahuilah agama ini
bukan hanya di mulut, tetapi ia menuntut adanya amal
nyata. Laksanakan perintah-
perintahnya dan jauhi
larangan-larangannya,
walaupun tanpa kalimat
“jangan”. Sesungguhnya kamu tidak perlu
pengakuan timur dan barat
karena kemuliaanmu dan harga
dirimu telah ada sejak kau di
lahirkan, dan bagi kami wahai
Ukhti Muslimah,.. kau lebih mulia dari sekadar makhluk yang
tergoda gemerlapnya dunia dan
jeritan pekikan mungkar yang
di sifatkan dengan “suara
keledai” (Qs. Luqman 19) oleh
Sang Maha pencipta. Kami tak rela melihatmu
tenggelam dalam tipuan mereka
yang selalu ingin
menghinakanmu dengan
berpura-pura memujimu, tetapi
melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata
jutaan bahkan milyaran manusia
di dunia. Mereka hanya
menginginkan
kehormatanmu sama seperti
binatang yang memang tidak pernah berpakaian. Mereka
hanya menginginkanmu
mencoreng-coreng mukamu
dengan polesan-polesan yang
merusak wajah aslimu yang
indah hasil ciptaan yang Maha Indah. Kami tak rela melihatmu
tenggelam
dalam tipuan mereka yang selalu
ingin menghinakanmu dengan
berpura-pura memujimu, tetapi
melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata
jutaan bahkan milyaran manusia
di dunia. Mereka hanya ingin
menjadikanmu pemuas nafsu
setan-setan jantan berhidung
belang. Mereka hanya ingin menjadikanmu bagaikan tong
sampah yang hanya diisi benih-
benih buruk dan tercela. Demi
Allah kami tidak rela.
Karena bagi kami kau sangat
berharga, bagi kami kau adalah pelengkap kehidupan duniawi
dan Ukhrawi, maka besar jualah
harapan kami padamu… Ukhti
Muslimah….!!! Seorang Muslimah
tidak pantas untuk
menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya
hidup dan akhlak yang buruk.
Apalagi budaya barat dengan
berbagai kebiasaannya yang
terlihat kotor dan menjijikkan
itu. Seorang Muslimah harus mandiri
dalam memilih cara hidupnya
sendiri, tentu semuanya
berangkat dari acuan “Firman
Allah” dan “Sabda Nabi-Nya
Shalallahu “Alahi Wasallam.” Seorang Muslimah selalu ingat
bahwa pada suatu hari dahulu
Rasulullah Shalallahu “Alahi
Wasallam. Pernah bersabda:
“Barang siapa yang meniru
(kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan
mereka”. Maka ia sangat
berhati hati dan kritis dalam
menentukan tatacara hidup,
berpakaian, dan bermu’amalah.
“Barang siapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia
(termasuk) golongan mereka”.
al-hadits. Ukhti Muslimah….!!!
Engkau adalah puncak. Engkau
juga
kebanggaan dan lambang kesucian. Engkau menjadi
puncak dengan Al-Qur’an. Dan
menjadi kebanggan dengan
Iman serta lambang kesucian
dengan hijabmu dan berpegang
pada ajaran agama ini. Lalu mengapa ada lambang kesucian
yang malah meniru cara hidup
yang najis. Bagi umat ini, Ibu
adalah
Madrasah terbaik jika ia benar
benar sudi mempersiapkan dan mengajari serta mendidik
generasinya. Kiprah seorang Ibu
dalam membentuk generasi Umat
terbaik dan Mujahid
penyelamat serta pengawal
hukum hakam Allah adalah sangat penting. Lihatlah para
pahlawan kita,
mereka yang telah
membuktikan dengan nyataa
keberanian dan keikhlasan
mereka dalam memperjuangkan tegaknya Kalimatullah… mereka
semua tidak lepas dari
sentuhan lembut para ibu yang
dengan sabar dan tanpa bosan
terus mendidik mereka untuk
menjadi mahkota bagi agama ini. Sadarilah!!!! Kewajiban seorang
ibu bukan
hanya memilihkan pakaian yang
sesuai bagi anaknya atau
memberikan makanan yang
terbaik baginya. Sungguh tanggung jawab ibu jauh lebih
besar dari sekadar itu semua,
karena itulah kami sangat
memerlukan seorang Isteri dan
ibu yang bisa mendidik anaknya
dengan dien Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shalallahu ‘Alahi
Wasallam. Kami memerlukan
wanita yang
bisa mengajari anak
perempuannya untuk menutup
auratnya dan berhijab dengan baik. Mendidiknya untuk
mempunyai sikap malu dan
berakhlak mulia. Kami tidak
sedikitpun membutuhkan wanita
yang hanya bisa mendidik
anaknya untuk bertabarruj dan bernyanyi serta menghabiskan
waktunya bersama televisi dan
film-film yang berisi “Binatang-
binatang” yang di puja. Kami
juga tidak membutuhkan
wanita yang hanya bisa membiasakan anak
perempuannya berpakaian mini
sejak kecil. Di mata kami wanita
seperti itu bukanlah seorang Ibu,
tetapi ia lebih tepat untuk
di sebut sebagai racun bagi kehidupan anaknya sendiri. Ibu
yang seperti itu tidak
bertanggung jawab dan
pengkhianat umat dan agama ini,
serta menzalimi anaknya
sendiri. Kami memerlukan wanita suci
yang bisa mengajari anak-
anaknya taat kepada Rabbnya,
karena melihat ibunya selalu
ruku’ dan sujud. Kami
memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak- anaknya
taat kepada Rabbnya, karena
melihat ibunya selalu ruku’ dan
sujud. Kami memerlukan seorang
ibu
yang bisa memenuhi rumahnya dengan alunan suara Al Qur’an
bukan alunan suara-suara
setan atau namimah serta
ghibah yang sangat dibenci oleh
Allah dan RasulNya, supaya
rumahnya menjadi rumah yang sejuk dan tenang serta bersih
dari unsur unsur najis nyata
atau maknawi. Kami memerlukan
wanita yang
dapat mengajari anak-anaknya
untuk selalu bertekad mencari Surga Allah bukan hanya
mengejar kenikmatan harta
dunia. Kami memerlukan wanita
yang
bisa mengajari anaknya untuk
siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan
permusuhannya kepada musuh-
musuh Allah. Kami memerlukan
wanita yang
bisa mengajari anaknya untuk
mendapatkan kehidupan abadi di sisi Rabbnya sebagai Syahid
dalam perjuangan membela
kalimatullah yang mulia. Kami
memerlukan
wanita yang bisa
mengajari anaknya untuk siap
melaksanakan Jihad fi
Sabilillah serta menyatakan
permusuhannya
kepada musuh-musuh
Allah. Ukhti Muslimah….!!! Kami memerlukan wanita yang selalu
mengharap pahala dalam
melayani suaminya, hingga ia
selalu taat dan menghiburnya
serta tidak pernah sedikitpun
ingin melihat wajah murung sedih sang suami. Kami memerlukan
wanita yang
selalu menjaga dien anak-
anaknya sebagaimana ia selalu
menjaga kesehatan mereka.
Salam hormat dari kami…. Salam hormat dari kami Kepada
wanita yang sukses menjaga
hubungannya dengan Rabbnya.
Dapat beristiqomah pada
Diennya. Dan dapat
mempertahankan hijabnya di tengah badai cercaan lisan
mereka yang jahil. Salam hormat
dari kami….. kepada wanita yang
selalu
tegas menjaga dirinya dari ber-
Ikhtilat dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, dan
menjaga dirinya dari pandangan
lelaki yang di hatinya masih ada
penyakit dan lemah. Salam
hormat kepada wanita yang
selalu menjaga agar dirinya tidak menjadi pintu masuk bagi
dosa dosa dari berbagai jenis
perzinaan. Salam hormat dari
kami…..
Kepada wanita yang selalu
sigap menutupi keindahan tubuh dan wajahnya dengan
hijab tetapi selalu memperindah
diri di hadapan sang suami
tercinta. Ia tahu bagaimana
menjaga dirinya dengan tidak
bepergian sendiri agar tetap terlihat mulia bahwa ia adalah
wanita yang terjaga. Demi Allah
Ukhti …. Wanita- wanita yang
seperti itulah
kebanggan umat ini, mereka
juga perhiasan masyarakat Islami, karena siapa lagi yang
akan menjadi kebanggan itu
kalau bukan mereka? Bukan
wanita yang selalu mengumbar
aurat lengkap dengan berbagai
polesan Tabarruj dan potongan-potongan pakaian
yang menjijikkan ditambah lagi
cara berjalan yang meliuk-liuk
bagaikan unta betina itu. Bukan
pula wanita yang
waktunya habis di pasar-pasar malam dan Supermarket atau
Mal? Kehidupannya hanya
untuk melihat harga ini dan
harga itu, toh semuanya juga
tidak terbeli…. Bagi kami
mereka adalah perusak kesucian Islam, mereka tidak
pantas menyandang nama mulia
sebagai “Muslimah” karena
mereka justeru melakukan
pembusukan dari dalam. Ukhti
Muslimah…!!! Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini
hanya sebuah persinggahan,
bersiaplah untuk meneruskan
perjalanan ke negeri abadi,
jangan sampai engkau lena…
Persiapkanlah bekalmu dengan memperbanyak amal sholeh,
sebagaimana kau persiapkan
dirimu dengan baik jika kau
akan berangkat menghadiri
pesta penikahan atau bepergian
ke tempat teman atau saudaramu. kini kau pasti
akan melakukan
suatu perjalanan yang tidak
dapat kau elakkan lagi, hari
dan waktunya pasti datang…
lalu apakah engkau telah siap..???? kau akan melakuakn
suatu perjalanan yang
membawamu hilang dari ingatan
seluruh manusia, baik saudara
atau sahabat, tetapi
sebenarnya kau masih bisa mengabadikan namamu jika kau
ingin melakukannya, tirulah apa
yang di lakukan oleh Masyitah,
atau Asiah
(isteri Fir’aun) , atau Mariam
binti Imran Ibu Nabi Isa yang mulia, atau A’isyah binti Abu
Bakar
Radhiallahu ‘Anha. Yang telah
membuktikan kepada dunia
akan harga diri seorang wanita
serta kejeniusannya. Lihatlah betapa nama mereka
harum dan kekal, namanya
pasti kan sampai ke telinga
orang terakhir yang terlahir di
bumi ini nanti. Sebagai bukti
bahwa sang pemilik nama juga sedang hidup kekal bahagia di
Jannah Rabbil Alamin. Tetapi coba
bandingkan dengan
mereka yang tertipu dengan
gemerlap dunia, apalagi ia
menjadi terkenal hanya karena ia terlalu berani mengumbar
auratnya, atau ia berani
memasang tarif yang tinggi
untuk harga dirinya, apakah
semua itu memberinya manfaat
setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah di liang kubur?
Berhati hatilah..jangan sampai
kau terjerumus pada
jurang yang sama, hingga kau
akan menyesal di hari yang
sudah tiada berguna lagi arti sebuah penyesalan.
Ikhwanukunna Fillah, Mujahid Fi
Sabilillah. Oleh : Abu Ikrimah Al-
Bassam

Karena Aku Sangat Merindukan Surga

Terkisah seorang sahabat yang tengah menjenguk sahabat wanitanya. Sang sahabat tengah menderita penyakit parah sehingga membuatnya terbaring sakit bertahun- tahun. Tidak terhitung sudah, berapa banyak biaya dan usaha yang telah dilakukannya untuk berobat. Namun Allah belum menghendaki kesembuhan atasnya. Disebuah kamar sempit itu, terjadilah perbincangan yang sangat menarik. Satu hal yang menjadi penasaran sang sahabat, adalah ketika melihat raut wajah sahabatnya yang sama sekali tiada tampak kekhawatiran di wajah sahabatnya yang sedang sakit itu. Dengan penuh kehati-hatian dia bertanya, bagaimana bisa kau sangat bersabar atas musibah yang menimpamu kali ini? dan bukankah ini sudah bertahun- tahun lamanya? Sang sahabat yang tengah terbaring sakit itu tersenyum, dan menjawab…

Aku pernah membaca sebuah kisah, tentang seorang wanita di jaman Rasulullah. Wanita yang sangat sholihah, dan begitu merindukan syurga. Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau ingin menunjukkan seorang wanita penghuni syurga kepada Atha bin Abi Rabah. Wanita itu bukanlah wanita cantik, atau dari kalangan terhormat, melainkan hanya seorang wanita hitam. Suatu hari wanita itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Disana dia berkata,

‘Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap, di saat penyakitku kambuh. Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’

Lalu dia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.”.

Sambil terbaring ditempat
tidurnya, wanita sahabatnya itu lalu berkata

“Lalu apakah menurutmu aku juga tidak ingin mendapatkan surga seperti wanita itu?”

Dan Allahpun berfirman bahwa

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, di dalam Al quran surat Al baqarah, ayat 153.

Bagaimana pendapatmu jika kau mendapati Allah telah bersedia menjadi teman sejatimu, yang berarti itu adalah lebih baik dari pada kau miliki langit dan bumi ini, dan atau semua teman yang terbaik yang pernah ada dan pernah kau miliki?

Dengan tetap tersenyum,
diapun melanjutkan…

Aku akan tetap bertahan dalam kesabaranku, karena aku begitu merindukan syurga.

Apakah kau aku tahu tentang betapa indahnya surga? aku mendengar bahwa jika seseorang telah melihatnya, maka dia akan dapat melupakan semua kesengsaraannya di dunia. Dan ya, siapa lagi yang lebih bisa aku percaya dan aku pegang janjinya selain tuhanku sendiri.

Maka dari itu tak apalah jika aku harus sakit di dunia ini, aku yakin ini hanya sebentar. Saat aku nanti sembuh, maka pelajaran atas sabar dan bersyukur insyaAllah akan selalu melekat di hatiku.

Tapi jika Allah berkehendak bahwa hidpku hanya sampai disini saja, maka paling tidak dengan yang aku lakukan ini, bisa menjadi sedikit harapanku untuk nanti aku mendapatkan syurga, keindahan, dan kesehatan yang abadi kelak, di sana. InsyaAllah Sang sahabat seakan tidak percaya dan hanya tertegun mendengarnya.

Ini bukanlah tentang cerita pengantar tidur, ataupun dongeng yang enak di dengar telinga. Namun, ini adalah sebuah nasehat yang datang dari sebuah hati yang kecintaannya begitu besar terhadap Allah, dan kerinduan yang sangat Atas Syurga.

Dan Kedamaian kata- kata itu bukan berasal dari orang yang segar bugar, namun justru berasal dari manusia yang sedang berkesusahan. Dalam hati sang sahabat lalu berdoa, semoga Allah juga menganugrahkan hati yang begitu sabar dan pikiran positif yang sangat kuat atas apapun takdir yang diberikan oleh Allah atasnya.
(Syahidah)

Demi Pekerjaan Ini, Aku Lepas Jilbab ku

Bunga, sebut saja begitu. Dia adalah seorang muslimah yang telah memakai jilbab dengan rapi.

Dia juga sangat aktif di pengajian.

Hari-harinya di isi dengan tilawah dan mengkaji ayat- ayat Allah.

Karena itulah dia banyak menemukan ketenangan dalam hati.

Dan umur Bunga pun terus bertambah.

Karena alasan tuntutan ekonomi, dia akhirnya harus bekerja di luar rumah.

Namun, pemilik tempatnya bekerja melarang para pekerjanya menggunakan kerudung, apalagi berjilbab.

Bahkan bagi mereka yang ingin tetap mengenakannya, harus dengan legowo mengundurkan diri.

Ujian iman itu akhirnya membuat Bunga memilih, entah pikiran apa yang ada dibenaknya, Bunga akhirnya menanggalkan kerudung dan jilbabnya.

iming- iming gaji dan kemudahan bekerja, serta ingatannya tentang kesusahan ayah dan ibunya dirumah, membuatnya berbuat nekat.

Semua dia lakukan dengan
harapan bisa bekerja ditempat tersebut.

Pertentangan hati memang kadang dirasakannya.

Namun rasa itu dibuangnya jauh-jauh.

Dalih ekonomi tetap menjadi alasan utamanya bekerja disana.

Bahkan sampai saat ini.

“Jika suatu hari, Allah menghendaki saya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, saya ingin memakai kembali hijab saya” katanya.

Saudari ku, Bunga tidak sendiri.

Diluar sana, masih banyak Bunga- Bunga yang lain, yang mungkin memilih atau terpaksa memilih pilihan yang sama.

Mereka menanggalkan jilbab yang merupakan identitas serta kehormatan mereka, demi tuntutan pekerjaan mereka.

Tapi, berhentilah menyalahkan dan hanya sekedar berkomentar tentang tipisnya iman, dan terbatasnya ilmu yang mereka miliki.

Sungguh, sebuah tindakan berarti, apapun itu akan lebih berarti untuk menyelamatkan mereka.

Sudahkah kita mengaku pada diri sendiri, bahwa terkadang kitapun jarang berbagi dan ringan tangan membantu sesama saudara kita, sehingga kehidupan seperti itulah yang akhirnya mereka pilih.

Dan apakah berarti kesulitan mereka akan hanya menjadi milik mereka?

sungguh nanti dihadapan Allah, kita pun akan ditanya tentang pembiaran itu.

Dan bagi siapapun kalian saudariku para muslimah, yang sudah atau ingin memilih jalan seperti yang bunga pilih, semoga kita tidak lupa bahwa Allah pun sudah berjanji bahwa dunia ini ditundukkan untuk orang- orang beriman.

Jika kita beriman dan taat pada aturan Allah, maka pasti Allah memberikan jalan.

Jadi masalahnya bukan terletak pada jalan keluar yang belum Allah berikan, tapi keyakinan kita pada jalan yang Allah berikan itu, tapi tentunya tetap dibarengi
dengan usaha yang maksimal.

Hidup memang pilihan.

Setiap hari manusia di suguhi dengan berbagai pilihan-pilihan dalam hidupnya.

mungkin kita pernah melihat saudari kita yang seperti bunga, atau mungkin sekarang kita tengah pada posisi seperti Bunga.

Maka cukuplah kejadian yang di alami bunga memberi pelajaran bagi kita semua.

Yakinlah, dunia ini tidak sesempit pikiran kita.

Masih banyak peluang disekitar kita untuk mendapatkan rejeki.

Belajar dari para shohabiyah, merekapun pernah dalam keadaan kekurangan, namun mereka tidak pernah terlepas iman.

Dan hasilnya Allah memuliakan mereka, di dunia dan di akherat.

Saudariku mungkin ada dari kita yang pesimis tentang minimnya ilmu dan kemampuan kita untuk mendapatkan nafkah yang lebih, tapi jangan sampai kita
pernah meragukan usaha kita sendiri, apalagi rejeki yang sudah dijamin Allah jika
kita berusaha.

Yakinlah, bahwa Allah terlalu maha penyayang untuk menyia- nyiakan kepercayaan kita.

Allah hanya ingin menguji keimanan kita, sejauh mana kita tetap pada iman kita, walau dalam keadaan sesulit apapun.

Lalu apakah kita bisa berhasil dengannya?

semua tergantung usaha dan pendirian kita sendiri.

/(Syahidah)\

Ucapkanlah Salam, dan Istri mu Akan Semakin Cinta!

RASULULLAH Shallallahu ‘alaihi Wassalam melarang para suami
membuat kaget dengan
kedatangannya secara
mendadak, tanpa memberitahu
lebih dahulu. Dan, bila seorang
suami dating dari bepergian jauh, hendaknya memberitahu lebih
dahulu kapan ia akan pulang.
Jangan sampai, niat kita ingin
member kejutan, malah
menimbulkan kesalahpahaman,
seperti yang terjadi pada sahabat Abdullah bin Rawahah
berikut ini : Dari Abu Salamah bahwasanya
Abdullah bin Rawahah datang
dari bepergian jauh di malam
hari. Ia pun bergegas menemui
istrinya. Ternyata di dalam
rumah lampu masih menyala, dan ia melihat bersama istrinya ada
sosok yang tengah tertidur. Ia
pun segera menghunus
pedangnya, namun tiba-tiba
istrinya berkata, “Menjauhlah
dariku. Ini adalah wanita yang biasa menyisir rambutku.”
Abdullah bin Rawahah pun
mendatangi Nabi dan
menceritakan kejadian tersebut.
Maka, Nabi melarang seorang
suami mendatangi istrinya dari bepergian jauh di waktu malam.”
(HR. Ahmad). Kalau pun ia datang di malam
hari, hendaklah seorang suami
memberitahu terlebih dahulu
kepada istrinya perihal waktu
kedatangannya. Dan, setelah
sampai di rumah, hendaklah ia mengucapkan sal;am kepadanya,
sebagai bentuk berita bahwa ia
telah datang. Insya Allah, resep
ini akan membuahkan
keharmonisan rumah tangga.
Sejenak, mari kita simak kisah kehidupan keluarga Abu Muslim
berikut, yang mengambarkan
betapa nuasa relegi di tengah-
tengah keluarga sangat
membantu dalam mewujudkan
kebahagiaan rumah tangga. Dari Utsman bin Atha’, dari
ayahnya, ia berkata, “Abu
Muslim mempunyai sebuah
kebiasaan, apabila pulan dari
masjid ke rumah, setiba di depan
pintu gerbangnya, ia bertakbir, lantas istrinya pun bertakbir. Bila
ia berada di halaman rumahnya,
ia bertakbir, Maka istrinya pun
menyahut takbirnya dengan
takbir pula. Dan, bila telah sampai
didepan pintu rumah, ia pun bertakbir dan dIjawab dengan
takbir pula oleh istrinya. Pada suatu malam, ia pulang dari
masjid dan bertakbir di depan
pintu gerbangnya, akan tetapi
tidak ada seorang pun yang
menyahut takbirnya. Ketika
berada di halaman rumah, ia kembali bertakbir, tapi juga tidak
ada yang menyahut takbirnya.
Setiba di pintu rumahnya, ia
kembali bertakbir, akan tetapi
tidak ada seorang pun yang
menyahut takbirnya. Biasanya, ketika memasuk rumah, istrinya
segera mengambil selendang dan
alas kakinya, kemudian
menghidangkan makanan
kepadanya. Saat itu, ia memasuki
rumahnya, ternyata di rumah tidak ada lampu yang menyala,
sedangkan istrinya duduk
teertunduk sambil menyandarkan
dirinya pada sebatang tongkat
yang dibawanya. Abu Muslim pun bertanya
kepadanya, “Apa yang terjadi
padamu?” Istrinya menjawab, “Engkau
seorang yang mempunyai
kedudukan di mata Mu’awiyah,
sedangkan kita tidak mempunyai
pembantu. Alangkah baiknya bila
engkau meminta Mu’awiyah memberi kita seorang pembantu,
pasti ia mau memberikan.” Abu Muslim pun berucap, “Ya
Allah, siapa saja yang telah
merusak istriku, maka
butakanlah matanya.” Sebelum itu, istri Abu Muslim
memang didatangi oleh seorang
wanita yang berkata kepadanya,
“Suamimu adalah orang yang
memiliki kedudukan di mata
Mu’awiyah, maka sebaiknya engkau memintanya agar ia
meminta Mu’awiyah memberinya
seorang pembantu, pasti
Mu’awiyah mau memberinya dan
kalian pun bisa hidup dengan
senang.” Ketika wanita itu sedang duduk
di rumahnya, tiba-tiba matanya
gelap. Wanita itu berkata,
“Mengapa lampu kalian padam?”
Keluarganya menjawab, “Tidak,
lampu kita tidak ada yang padam.” Wanita itu segera datang kepada
Abu Muslim, menangis sambil
memintanya mendoakannya
kepada Allah supaya
mengembalikan penglihatannya.
Abu Muslim pun iba kepadanya, lalu berdoa kepada Allah, maka
Allah pun memulihkan
penglihatannya. (Al-Atqiya’ Al-
Akhiffa’). Perlu disadari bersama, bahwa
untuk menghadirkan
keharmonisan rumah tangga
dapat diwujudkan menghadirkan
nuasa ibadah di dalamnya. Sisi
inilah yang jarang disadari oleh kalangan pasangan suami istri.
Bahkan, kadang kita dapati
rumah tangga yang kering dari
nuasa relegi. Sehingga, jangan
heran bila ada potret rumah
tangga yang tak ubahnya seperti kuburan, saking
keringnya dari nuansa religi. Cabalah untuk mencoba untuk
menghidupkan kembali semangat
keagamaan yang dulu pernah
berkobar-kobar, saat sebelum
membangun rumah tangga. Dulu,
ucapan salam saat bertemu merupakan kebiasaan yang tak
lepas dari diri kita. Jabat
tanggan saat bertemu dengan
saudara, teman, dan kerabat
merupakan perkara yang selalu
menghiasi akhlak kita. Namun, setelah berumah tangga,
kebiasaan-kebiasaan positif
seperti itu seolah lenyap dan
sirna dari pribadi kita. Keluar
masuk rumah tanpa mengucap
salam. Saat hendak pergi kerja, tak ada tutur sapa dan jabat
tangan dengan istri dan anak-
anak. Kering, dan terlihat muram. Kisah Abu Muslim di atas sangat
cocok dijadikan potret dan
cermin untuk keluarga kita. Tidak
hanya salam, saling menyahut
takbir serasa memberikan
kehangatan dan keharmonisan antar suami istri. Menakjubkan
sekaligus patut dicontoh. Semoga
kehermonisan senantiasa
menyapa keluarga kita. Wallahul
musta’an.* Penulis buku, tinggal di Solo,
Jawa Tengah

Jadwal Kajian HASMI Pekan Ke-3 Bulan Februari 2013

HADIRILAH CERAMAH UMUM BERSAMA HASMI

Dengan Tema :

“MENGGAPAI MANISNYA IMAN”

Catat tempat pelaksanaannya:

Masjid Alamat Pemateri 1 Masjid Daarus Sa’adah Jl Kebagusan Raya Gg Wates Rt 11 Rw 05 Jagakarsa Jakarta Selatan

Da’i:

Ust Dahlan Barabake S.Th.I

Acara ini diselenggarakan pada hari Ahad, 24 Februari 2013, pukul 08.30 s/d 11.30 WIB.

Ajak keluarga, tetangga, dan handai taulan semua….

Isi hari ahad ini, dengan menambah pengetahuan agama anda ….

Keterangan Lebih Lanjut Hubungi No. 0813-9852-2400

Bahagia Dalam Diri Adalah…

Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk menjadi bahagia. Menjadi bahagia adalah tentang bagaimana kita mensetting hati, pikiran
dan laku dan keseharian kita, dan semua itu adalah terletak diatas keinginan dan
kemauan kita sendiri. Ketika definisi tentang bahagia kita
letakkan dengan cara banyak menguliti orang lain dan meminta mereka bersikap
begini dan begitu, yang tentunya mengharuskan mereka mengikuti apa yang kita mau, saat itulah sebenarnya kekurangan adalah menjadi milik kita dan
bukan mereka. Betapa tidak, dalam menyusun rencana
pembahagiaan diri kita tersebut, maka harus dihadirkan adanya sikap memaksa, tak jarang malah berakhir dengan konflik.
Padahal dengan bersabar, hal itulah yang bukan hanya menjadikan kita lebih bahagia, tapi sekaligus memberi peluang kita untuk lebih mulia.

Lalu, apakah ada kebahagiaan dalam kesabaran?

Tentu saja ada.

Seseorang yang beriman kepada Allah, akan selalu
bahagia dalam sabarnya. Hal ini wajar, karena pikirannya akan tertuju kepada nikmat pahala dan kebahagiaan akherat yang pasti Allah berikan sebagai balasannya. Dan sekali lagi, hal ini hanya
berlaku hanya untuk para hati yang benar- benar beriman kepada Allah. Selanjutnya, dalam kesabaranpun juga
terkandung kebahagiaan yang lain.

Seperti kata pepatah, bahkan batupun bisa akan berlubang jika ditetesi air
secara terus menerus.

Garis hidup yang memang tidak mudah di lalui pada awalnya dengan sikap yang bernama sabar, namun
di episode akhir, InsyaAllah kita akan berhasil mengubah seseorang, yang tanpa
sadar justru akan mencontoh banyak hal baik yang telah kita lakukan, hanya karena kita mampu bersabar.

Dan adalah sebuah kepastian bagi siapapun yang akhirnya menemui dirinya di masa depan menjadi pribadi yang disegani dihadapan kawan maupun lawan. Selain itu, ada sebagian orang yang mampu untuk bahagia dengan
mensyaratkan ini dan itu kepada dirinya sendiri dan orang lain, dimana semua itu
seakan melampaui batas kewajaran. Atau dalam kata lain, tiada rasa syukur dalam kamus hidupnya. Dan apakah sebenarnya dia bahagia ketiika telah terpenuhi segala
yang dia inginkan?.

Mungkin tidak.

Karena yang ada, bahkan sebenarnya dia menjadikan hidup yang sekali kali nya ini,
menjadi budak dari ambisinya yang tiada habis dan dan tidak ada ujungnya. Nafsunya merongrong terus tanpa batas dan waktu. Sungguh, sebenarnya dia adalah orang yang paling sengsara, banyak tertipu dan paling pantas
dikasihani. Dan tidak mustahil, justru bahkan dalam akhir kisah hidupnya, dia belum sempat menikmati kebahagiaan yang hakiki, yaitu berada dekat Allah
subhanahu wataala, karena jatah hidupnya sudah habis untuk keperluan nafsunya sendiri. Padahal ketika maut
telah merenggutnyapun, dunia yang selama ini di belanya, tidak serta merta
akan mati dan mengikutinya, kecuali meninggalkannya dan hanya mengingatnya dalam nama “kenangan”.

Maka jadilah pahlawan bagi diri sendiri, yaitu yang mampu mengangkat derajat diri sendiri lewat kesabaran, dan hadiahi diri kita selalu dengan sebuah rasa syukur kepada Allah. Sungguh, orang yang damai dan bahagia dengan dirinya, sesungguhnya tidak memerlukan apa- apa lagi, Kecuali Allah, yang Maha membantu dalam menyelesaikan masalahnya, dan selalu akan menyertai hari- harinya.

Dan dengan begitu, bisa disimpulkan pula, bahwa dia telah menjadi pemimpin terbaik atas dirinya, yaitu dengan menyandarkan pilihan dan keluh kesahnya dengan yang Maha Menyelesaikan, saja

Dan ketika kita sudah merasa memiliki dan begitu dekat dengan Allah, maka semudah itu kita akan mutuskan, ternyata gampang mendapatkan sebuah bahagia. (Syahidah)

Bacalah! Maka Kau Akan Mengerti

Bacalah tentang dirimu, maka aku akan
mengerti bahwa sesungguhnya dirimu
adalah indah. Allah telah menciptakanmu
dengan begitu teratur dan sempurna,
maka dari itu berbanggalah menjadi
muslimah dengan menjadi taat kepada Nya. Dia tetap memeliharamu bahkan saat kau
tidak mencintainya, Dia mengasihimu dan
tetap memberikan kepadamu jatah rizki,
bahkan disaat kau mengkhianatinya, dan
Dia pun akhirnya memaafkan kesalahanmu
saat kau bertaubat, walaupun selanjutnya kau mengulang kesalahan
yang sama. Lagi dan lagi. Memang,
menebus kecintaanNya adalah sangat
mustahil dilakukan, maka satu- satunya
cara untuk membalasnya adalah menjadi
hamba yang baik untukNya. Walaupun itu memang sama sekali tidak
menguntungkan atau merugikanNya,
namun percayalah kesetiaan terhadap
aturan dan JalanNya, akan selalu
membawamu kepada kemuliaan seorang
manusia. Menjadi mulia…ternyata lebih
mendamaikan bahkan dari pada sekedar
mendapatkan gelar sebagai `kaya`. Lalu
mengapa harus kau rendahkan dirimu
sendiri dengan menyelisihi Allah sang Maha
Penguasa, hanya demi memenuhi nafsu yang memenuhi rongga dadamu?. Bacalah kewajibanmu, maka kau akan
mengerti bahwa seorang wanita
sangatlah dimuliakan Allah lewat sebuah
hal yang bernama melayani. Dengan
melayani keluarga dan suami, maka kau
telah melekatkan sebuah keajaiban pada dirinya sendiri sebagai seorang wanita. Kau yang dengan segala keringanan
mengesampingkan kesenanganmu sendiri
demi kebahagiaan yang lain. Ah Simpanan
terbaik apalagi di dunia ini yang lebih
selain seorang istri yang begitu sangat
sholihah dan mencintai keluarganya diatas kepentingan dan kelegaan hatinya sendiri.
Suami adalah kunci munuju surga,
kehidupan terabadi ditempat yang paling
indah. Subhanallah, semoga Akhirnya
kehidupan terbaik disana bisa di peroleh. Bacalah tentang kekuranganmu, maka
kau akan mengerti cara tepat menjadikan
dirimu hebat, tanpa harus menjadi
dipaksakan untuk sempurna.Kesadaran
tentang kekurangan itu akan menjadikan
kau pribadi yang tidak sombong dihadapan Yang Maha segala apalagi
dihadapan manusia. Saat kau mengenal kekuranganmu, maka
akan banyak kesempatan bagimu untuk
melembutkan hati dan mengasah kasih
sayangmu untuk selanjutnya kau
sebarkan keindahan itu kepada seluruh
dunia. Bacalah tentang masa lalumu, maka kau
akan mengerti betapa Allah sangat Maha
penyayang dan mengasihimu. Allah
menuntunmu kepada jalan yang terbaik
walaupun kadang kau khianati. Kasih sayangNya tiada batas, walau
sering kali kita membatasi diri denganNya
lewat dosa- dosa yang kau perbuat.
Maka dari itu jangan tunda sujudmu,
mohonkanlah ampunan atas jalan salah
yang telah kau ukir dalam kebanggan berbuat dosa. Bacalah setiap lembaran hidupmu, maka
kau akan mengerti betapa Allah
Subhanahu Wata’ala telah mengembankan
kepadamu tugas yang berat dan indah,
namun tidak melebihi kemampuanmu. Kau adalah mampu, walaupun kau suka
berputus asa dengan berkata tidak
mampu. Kau adalah pemenang, walau
sesekali terpuruk menjadi pecundang. Kau
adalah Anugrah, maka jangan anggap
dirimu sebagai sampah. Kau indah, bahkan terlalu indah untuk sekedar kau caci maki.
Kau adalah hamba yang taat, walau
sesekali kau salah jalan, namun lihatlah
sang Maha Penolong masih tersenyum
dalam keteledoran yang kau lakukan. Dan yakinlah Dia akan selalu
memaafkanmu, selama kau ikhlas meminta
maaf. Lalu, atas alasan apa lagi kau harus
menunda tobatmu, apakah kau perlu
harus menyaksikan dahulu kemurkaaan
Allah atasmu? (Syahidah)